Minggu, 07 April 2013

Uang Menguasai Pilihan

Memilih Pimpinan di Gerbang Nurani, Bukan Nurani di Gerbang Uang

Mencari popularitas adalah hak setiap orang. Apalagi demi kepentingan pribadi dan membesarkan kelompoknya. Karena, dengan popularitas seseorang bisa menggenggam dunia. Perkembangan zaman kian terus terjadi. Namun, seiring perkembangan zaman itu uang masih tetap memiliki peran utama sebagai penguasa. Bahkan uang begitu bernilai bagi setiap penguasa. Untuk mendapatkan kepuasan, uang kerap memiliki peran utama.

Rabu, 20 Maret 2013

Bersama Sholat Aku Mengenal Tuhan


Sholat mengalir di setiap pekerjaanku. Sholat mengalir di setiap awal niatku. Bersama sholat, aku mulai segala aktifitas. Sadar, sebagai makhluk yang tak memiliki daya kecuali dengan rohnya Allah SWT, aku bisa melaksanakan seluruh kegiatanku. Setiap hari, aku hanya menyisipkan beberapa menit untuk mengerjakan sholat. Padahal, sholat sesungguhnya tak hanya menjadi ibadah wajib bagiku, tapi lebih dari itu. Lewat perantaraan Sholatlah, aku bisa mengenal seisi dunia dengan baik dan sadar. Bahwa sesungguhnya, dengan sholat, aku mampu menuntun jalanku menuju penerangan.

Mengintip Huru-Hara Demokrat Maluku

Kemana Palu KPU, Vanath Atau Puttileihalat

Mengurus politik memang gampang sulit. Apalagi sudah berhadapan dengan aturan. Semua partai politik punya aturan. Tapi ingat, Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga punya aturan, selaku lembaga penyelenggaraan Pemilu milik negara yang indenpent.

Rabu, 21 September 2011

ARMC IAIN Ambon Ajak Berdamai Sejati

***Abidin Wakanno: Ada Kesan Konflik Dipelihara ***

Oleh : Ismail Hehanussa

KONFLIK 1999 menjadi catatan suram bagi segenap warga di Maluku. Lambat laun, trauma konflik 1999 serasa tenggelam dimakan waktu. Hidup damai masyarakat di negeri kepulauan ini tumbuh sempurna bak cakrawala. Namun, acap kali konflik selalu menjadi persoalan pembatas dibalik sisi kehidupan sosial masyarakat. Ini kemudian meniscayakan bahwa konflik orang Maluku, seakan dipelihara bak anak 'harimau' di taman kota. Ketika sudah dewasa, anak 'harimau' itu, meronta dan ingin mengadu fisik. Ibaratnya bom waktu, ketika saatnya tiba, bom tersebut diledakan.

Senin, 07 Februari 2011

Bangun Kualitas, Harus Rendah Hati


***Merawat Maluku--Sambut Nirwana Bersemayam Para Mu'alim

Catatan : Ismail Hehanussa

Rektor Lantik Pengurus BEM IAIN Ambon

REKTOR Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon Prof DR H Dedi Djubaedi, M.Ag, resmi melantik Kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAIN Ambon periode 2011-2012. Pelantikan yang dipusatkan di gedung Aula IAIN Ambon, Jumat, 4 Februari kemarin, juga dihadiri oleh aktivisi 80-an, yang juga staf pengajar di Universitas Indonesia, sekaligus Chief Executive Officer PolMarkIndonesia (political marketing conculting) Eep Saefulloh Fatah.

Selasa, 11 Januari 2011

Pecah Tahun dalam Pertemuan

Catatan Merah Seorang Gadis

KISAH ini bukan fiktif, melainkan fakta yang saya kemas dari kisah nyata sahabat kecilku. Pagi itu saya berjalan menelusuri lorong-lorong kota untuk mencari jejak sumber informasi keberadaan sahabat kecilku. Usaha untuk mencari sahabatku itu datang, ketika saya mendapatkan kabar, kalau sahabat kecilku sekarang berada di Kota Ambon. Saya masih ingat, perpisahan kami akibat terjadinya konflik horisontal sepuluh tahun silam, yang melanda negeri raja-raja ini.

Oleh : SY

Jumat, 17 Desember 2010

Menanti Hukum dalam Perlindungan Wartawan

***Polisi ? Apa Memang Nyawa Kami = Seekor Ayam

Oleh : Ismail Hehanussa
Radar Ambon

SATU lagi wartawan di Maluku meninggal akibat dibunuh. Baru beberapa bulan lalu, kita dikagetkan dengan kematian Ridwan Salamun, wartawan SUNTV, yang dibunuh secara tidak manusiawi. Rasanya, duka bagi pekerja kuli tinta di Maluku tak ada habis. Untuk menutup akhir tahun 2010 saja, kita harus kehilangan dua orang teman.

Selasa, 14 Desember 2010

IAIN Ambon Gelar Lomba Hadrat dan MTQ

Jemput MTQ Nasional, IAIN Ambon Gelar Lomba Hadrat dan MTQ
***Grup Hadrat Iha Lengkong-Liang Sabet Juara I

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, yang menjadi satu-satunya perguruan tinggi negeri Islam di Maluku, kini telah menyiapkan dirinya, untuk menjemput Musabaqah Tilawaltil Quran (MTQ) Nasional ke-24 tahun 2012, yang akan digelar di Provinsi Maluku nanti. Salah satu bentuk kesiapan yang nampak dari IAIN Ambon, dengan adanya digelar Festival Seni Hadrat dan Lomba MTQ, oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) (IAIN), Senin, 13 Desember.

Kegiatan yang mengusung tema, "dengan Festival Seni Hadrat serta Lomba MTQ, kita kembangkan bakat dan potensi remaja Islam Maluku dalam rangka menyonsong MTQ Tingkat Nasional ke-24 tahun 2012 di Provinsi Maluku", ini dipusatkan di GOR IAIN Ambon, dengan menghadirkan enam grup peserta lomba Seni Hadrat; Wakasihu, Hila, Tulehu, Iha Lengkong, Batumerah dan Remas Kampus IAIN Ambon. Sementara untuk lomba MTQ terdiri dari peserta tilawah delapan orang, peserta hipzil quran enam orang, kaligrafi sembilan orang.

Ketua Panitia Lomba DR Fahmi Salatalohy, usai acara pembukaan menjelaskan, kegiatan ini sebagai jembatan kepada LPM IAIN Ambon, dalam menggali potensi remaja Islam, yang kemudian dikembangkan. Pasalnya, saat ini seni budaya Islam di Provinsi Maluku sudah mulai funah. Maka lewat kegiatan ini, LPM IAIN Ambon dapat menggali dan mengeksploitasi kembali seni budaya Islam yang sudah mengakar dari para leluhur Islam di Negeri Raja-raja ini. Doktor filsafat ini, mengkhatirkan, bila tidak dilakukan lomba seperti ini, lambat laun seni budaya Islam di Maluku, akan dimakan oleh ganasnya arus globalisasi, yang kini terus merusak lingkungan pergaulan kaula muda di Maluku.

Selebihnya, doktor alumnus UGM Yogya ini mengakui, kalau kegiatan yang berlangsung kemarin, merupakan salah satu bentuk dukungan IAIN Ambon, dalam menjemput agenda MTQ Nasional yang akan dilangsungkan di Maluku pada tahun 2012 mendatang. Doktor muda ini berharap, agar kegiatan ini dapat memberikan motifasi kepada generasi muda Islam di Maluku, untuk senantiasa merawat dan melestarikan budaya mereka. Pasalnya, pengaruh arus globalisasi terkini dapat merusak akhlak generasi muda Islam, kalau tidak difilter dengan kegiatan-kegiatan Islami. Khusunya dalam rangka menyambut MTQ Nasional pada 2012 mendatang di Maluku, dirinya berharap agar seluruh pimpinan di Maluku untuk saling bergandengan tangan. Pasalnya, kegiatan MTQ yang akan berlangsung di Maluku nanti, merupakan wahana yang paling tepat untuk melakukan ekploitasi terhadap nilai-nilai seni budaya Islam yang ada di negeri raja-raja ini. Hal serupa juga diharapkan oleh Rektor IAIN Ambon Prof DR H Dedi Djubaedi, ketika memberikan sambutan dalam acara pembukaan ini. Dedi selaku Rektor IAIN Ambon, merasa kagum dengan suksesnya kegiatan kemarin.

Untuk itulah, dirinya berharap agar kegiatan festival yang berlangsung kemarin, dalam dikembangkan menjadi lebih akbar lagi. Kalau kemarin hanya melibatkan peserta yang ada di Pulau Ambon, maka ke depan kata dia, akan ditingkatkan lagi, dengan melibatkan seluruh peserta dari seluruh daerah yang ada di Maluku. Dan kalau perlu, kata dia, tak hanya dilakukan di IAIN Ambon, tapi di pusat Kota Ambon. Ungkapan serupa, kembali disampaikan secara tertulis dalam acara penutupan, yang dibacakan oleh Purek Bidang Akademik IAIN Ambon Drs Hasbollah Toisuta, M.Ag. Dalam sambutan acara penutupan kemarin, rektor lewat Hasbollah mengharapkan, agar dalam event-event serupa yang akan dilakukan oleh IAIN Ambon ke depan nanti, dapat difasilitasi dengan bantuan oleh Pemprov Maluku. Sebab, lomba yang dilangsungkan kemarin, merupakan salah satu bentuk wujud pengaplikasian ketrampilan seni Islam masyarakat Maluku. "Orang Maluku kayak dengan budaya Islam. Tinggal bagaimana IAIN Ambon melihat persoalan ini. Nah..! Lomba yang berlangsung saat ini, merupakan starting poin untuk kegiatan akbar selanjutnya nanti," janji rektor lewat sambutan Hasbollah Toisuta, dalam acara penutupan kemarin. (***)

Kamis, 04 November 2010

92 Hari, Pemkot Kejar Rp14 M untuk Retribusi

DALAM kalender masehi di tahun 2010, hanya sisa 92 hari sudah berganti tahun ke 2011. Sisa waktu 92 hari atau lebih dari dua bulan itulah, yang kini menjadi tanggungan berat bagi seluruh Pimpinan Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD), yang ada di jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon. Tanggungan untuk bagaimana mengejar retribusi, guna menutupi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sudah dipatok senilai Rp25 miliar di tahun ini.

Bagaimana tidak, selama kurang lebih tiga triwulan kemarin, Pemkot Ambon hanya bisa panen Rp11 miliar. Sisanya, harus dikejar dalam kurun waktu 29 hari ke depan. Bila tidak, defisit Anggaran Pembangunan Belanja Daerah (APBD) tahun 2009 kemarin, akan membengkak. Di sisi lain, tahun 2011, merupakan sisa akhir masa jabatan Walikota Ambon MJ Papilaja dan Wakilnya Olivia Latuconsina. Bila tidak mencapai Rp25 miliar dalam tempo 29 hari, maka kedua pimpinan ini, akan meninggalkan dosa dari masa jabatan mereka. Dosa berupa defisit anggaran, yang tentunya akan menjadi beban kepada pimpinan berikutnya. Lalu bagaimana dengan tunjangan para PNS yang selama ini mengabdi di Pemkot Ambon, namun belum juga dibayar. Tentunya, tunjangan itu akan dibayar, bila Pemkot Ambon bisa menuai PAD yang efisien dalam kurun 19 Oktober hingga 31 Desember. Kalau ternyata tidak juga, maka beban yang ditelorkan oleh MJ Papilaja-Olivia semakin membludak.

Seperti diketahui, kepulangan MJ Papilaja Cs dari pelawatannya ke Negeri Belanda, langsung diwarnai pergantian para pejabat pimpinan SKPD akhir pekan kemarin. Menariknya, pergantian ini dengan alasan untuk mencapai target PAD tahun 2010 yang sudah dipatok senilai Rp25 miliar. Kalau tidak, maka pergantian itu bernilai hampa di mata Papilaja Cs. Kepada mereka yang baru dilantik, Papilaja, meminta mereka agar bisa menarik retribusi sebanyak mungkin, guna menutupi defisit APBD tahun kemarin. Pasalnya, hingga masuk triwulan ketiga, Pemkot Ambon baru bisa menghasilkan PAD senilai Rp11 miliar. Sisanya Rp14 miliar harus dikejar dalam kurun waktu 29 hari ke depan.

Seharusnya, menurut Kepala Bidang Pendapatan pada Dinas Pendapatan Kota (Dispengkot) Ambon Lina Silooy, tahun 2010 ini, PAD Kota Ambon melebihi angka Rp25 miliar, tapi yang terjadi justru minus. "Rp25 miliar itu belum termasuk dalam target PAD perubahan yang masih sementara dibahas di DPRD, dan pasti melebihi angka tersebut. Tapi kita tetap optimis untuk capai target yang ditentukan," kata pekan kemarin kepada wartawan.

Sementara hasil pengamatan National Committe Supervision of Parlementer (NCSP) Wilayah Kota Ambon, jumlah retribusi di Kota Ambon kalau dikelola secara efisien, maka APD yang ditargetkan Rp25 miliar bisa tercapai. Bahkan, nilai ini bisa dicapai dalam hitungan satu semester. Pasalnya, di Kota Ambon seluruh pajak diberlakukan. Mulai dari retribusi parkir, retribusi PKL, pedagangan asongan, angkutan kota, restoran, rumah kopi, pariwisata, hotel, penginapan, pemasangan reklame, termasuk IMB. Nah, semua retribusi ini, sangat tidak mustahil kalau PAD Kota Ambon berada di level Rp11 miliar dalam hitungan semester. "Coba kita lihat, berapa jumlah PKL yang ada di Kota Ambon. Pajak PKL, parkiran, dan pajak mobil angkutan kota ini berlaku setiap hari, termasuk hari libur. Lalu, kemana kira-kira uang pajak tersebut, kalau bukan ke kas daerah," kata Priyanto, staf Riset dan Informasi NCSP Wilayah Kota Ambon. Menurut dia, bila seluruh pejabat dan staf pada setiap SKPD di Pemkot Ambon bisa berlaku profesional, akuntabel dan transparansi setiap menjalankan tugas mereka, maka jumlah Rp25 miliar terlalu sedikit bila dikalkulasikan dengan jumlah penarikan retribusi Kota Ambon. "Ketika kami melakukan riset data retribusi di sejumlah pedagang PKL maupun pedagang tetap di seputar Ruko Pasar Mardika saja, angkanya per bulan bisa mencapai puluhan juta. Itu baru PKL, belum masuk pada penarikan lainnya, termasuk uang keamanan." Kata dia, kalau semua ini diatur dengan baik, maka Kota Ambon tidak pernah mengalami defisit anggaran. Pasalnya, Kota Ambon merupakan central berputarnya uang di Maluku. Dari laba pendapatan bank yang ada di Maluku saja, menunjukan angka simpanan, dan angka belanja yang naik drastis, bagaimana dengan retribusi, pasti lebih normal lagi, beber dia, sembari membandingkan dengan Kabupaten Badung, Provinsi Bali, yang tidak memberlakukan retribusi parkir dan masuk pariwisata saja, bisa menjadi daerah penghasil PAD terbesar di Bali.

Dirinya menyarankan kepada seluruh pimpinan SKPD Pemkot Ambon, termasuk Walikota MJ Papilaja dan Wakilnya Olivia Latuconsina, agar bisa melakukan fungsi kontrol mereka di lapangan. Pasalnya, dari hasil survey mereka di lapangan, ternyata ada calo yang kerap meraibkan hasil retribusi ini. Sehingga, target PAD yang sudah ditetapkan, sulit tercapai, akibat retribusi tersebut putus di tengah jalan. "Soalan yang mendasar di lapangan adalah, ternyata banyak calo yang berkeliaran. Sebut misalnya, calo parkir, calo PKL dan sebagainya. Bila ini ditertibkan, maka PAD akan menjadi gampang dikontrol," saran pria berdarah Arab Sunda ini. (***)

Senin, 04 Oktober 2010

Polres SBT "Mandul" -- Kematian Tragis di Wakate Didiamkan

***Korban Meninggal, Hamil 2 Bulan
***Jasadnya Ditemukan Satu Hari Sebelum Lebaran Id

DARI sekian data kriminal yang pernah diterima Radar Ambon, dalam kasus kriminal biasa, sampai tingkat pembunuhan di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), belum ada satupun yang tuntas diselesaikan oleh aparat Polres SBT. Tepat, Selasa, 7 September sebelum puncak Idul Fitri 1431 hijriah lalu, warga Desa Teor, Dusun Kilwouw, Kecamatan Wakate Seram Bagian Timur (SBT), dikagetkan dengan adanya kehilangan seorang ibu rumah tangga, Sariah Totroman (28). Hilangnya ibu rumah tangga yang dikabarkan sedang mengandung dua bulan ini, membuat seluruh warga Dusun Kilwouw fanik "takaruang". Setidaknya ini dibeberkan Tokoh Pemuda Wakate, Fransisco Alimuddin Kolatlena, setelah berada di Kota Ambon, Senin, 4 Oktober.

Secara sukarelawan, warga lalu menyusuri lereng gunung dan hutan untuk mencari keberadaan korban. Satu hari penuh warga mencari ke seluruh titik lokasi keberadaan korban di hutan, namun tidak membuahkan hasil. Warga yang tak pupus, terus berusaha menelusuri hutan yang sungguh menantang tersebut. Tepat, Kamis, 9 September, sekira Pukul 15.00 Wit, korban baru bisa ditemukan oleh suaminya sendiri pada salah satu kebun milik warga. Besar harapan suami korban, bisa jumpa dengan istri kesayangannya dalam keadaan sehat walafiat atau paling tidak masih hidup. Ternyata, harapan suami korban, Mustafa Tatroman (32), pupus setelah melihat jasad sang istri dalam keadaan "terlentang" di atas rerumputan tanpa bernyawa. Kondisi tubuh korban juga terlihat "sadis", karena baru ditemukan dua hari setelah dibunuh secara "sadis". Kendati baru dugaan, namun ada banyak hal yang bisa membuktikan, kalau kematian ibu rumah tangga, yang sementara mengandung dua bulan ini, akibat dibunuh.

Hal ini terbukti, pada pipi kanan korban terdapat luka robek bekas hantaman benda tajam, leher terdapat luka tusuk maupun membengkak hingga menimbulkan warna kebiruan, selayaknya dicekik. Selain itu, bola mata korban juga berubah posisi dari aslinya. Pada telapak kaki korban juga terdapat bekas luka tusukan, lengkap dengan kondisi pakaian yang dipakai terlihat sobek serta tidak karuan. Memang, kondisi pakaian korban bisa dimaklumi, karena jasadnya diduga meninggal dua hari sebelum ditemukan.

Dari hasil pencarian yang begitu melelahkan, warga kemudian melaporkan penemuan jasad ibu rumah tangga yang sudah dikaruniai enam orang anak ini, kepada Polsek Wakate di Kecamatan Kesui. Sembari sebagian warga berangkat ke Polsek Wakate di Kesui, sebagiannya lagi mendirikan "tenda", untuk mengawal jasad korban di lokasi kejadian. Jarak tempuh antara Polsek dengan lokasi kejadian, yang memakan waktu kurang lebih satu jam, yang ditempuh dengan "motor tempel", membuat kondisi ini semakin runyam. Pasalnya, sejak jasad korban ditemukan pada Pukul 15.00 Wit dan dilaporkan ke Polsek sekira Pukul 16.00 Wit, salah satu anggota Polsek Wakate, ditemani seorang mantri, bersama warga yang melaporkan kejadian ini, baru bisa tiba di lokasi penemuan jasad korban sekira Pukul 00.00 Wit dini hari. Patut dimaklumi, selain harus menyeberangi laut untuk menghubungkan dengan Polsek Wakate, lokasi penemuan jasad korban jauh dari pekampungan warga. Paling tidak, warga harus menguras tenaga dengan menempuh jarak ke lokasi penemuan jasad korban, kurang lebih 2 kilo meter, yang ditempuh dengan berjalan kaki. Sementara di lokasi kejadian, warga yang sedang mengawal keberadaan jasad ibu rumah tangga ini, terus menanti dengan harap-harap cemas. Suasana malam di hutan, membuat warga terus cemas. Pasalnya, pada pukul 00.00 Wit, satu anggota polisi dan mantri yang dijemput warga baru bisa tiba di lokasi kejadian. Kedatangan mereka, membuat kondisi semakin mencekam, karena selain berada di hutan, juga jasad korban semakin parah. Karena itu, jasad almarhuma lalu dihantar pulang oleh warga, yang sudah meratapi kondisi ini sejak siang tadi, dari lokasi kejadian menuju kediamannya di Dusun Kilwouw.

Sementara dari seberang negeri, terdengar sahutan suara takbir, tahmid dan tahlilan menyambut hari kemenangan Idul Fitri 1431
Hijriah, setelah melewati puasa satu bulan penuh. Suasana menikmati kemenangan lebaran pada siang nanti, serasa pupus dimakan musibah, yang ternyata baru pertama kali terjadi di negeri ini. Perjalanan warga yang sedari siang mengawasi jasad korban dari makhluk lain, sekira Pukul 02.30 Wit dini hari, tiba sudah di pekampuangan warga. Jasad istri Mustafa Tatroman(32) ini, lalu dihantar secara bersama dengan iringan tahmid dan tahlili, menuju kediamannya. Sementara di kediaman almarhuma, anak-anak dan sanak keluarganya, menanti dalam balutan tangis dan duka.

Setiba di rumah almarhuma, jasadnya lalu diistiratkan sejenak, kemudian dimandikan, dikafani, lalu semayamkan ke bumi sekira Pukul 04.00 Wit dini hari itu juga. "Kepergian almarhuma secara tragis ini, masih menyimpan duka dan tandanya begitu mendalam, baik dari keluarga maupun masyarakat di dusun ini," tutur Tokoh Pemuda Wakate mantan Fungsionaris HMI Cabang Ambon ini.

Alimuddin mengutarakan, kepergian almarhuma masih menyimpan sejuta tanya dari masyarakat setempat. Pasalnya, sejak kematian almarhuma, langsung dilaporkan kepada aparat kepolisian baik di Polsek Wakate, maupun Polsek Gorom. Laporan yang disampaikan langsung oleh keluarga korban kepada kepolisian ini, dengan harapan agar bisa diungkapkan, siapa dalang dibalik kematian ibu yang sudah dikarunia enam orang anak ini. Sayang sekali, dalam penantian, ternyata kepolisian hanya diam "adem". Pasalnya, sejak laporan sampai di Kantor Polsek Wakate tiga hari setelah penemuan jasad almarhuma, tidak ada balasan balik. Bagaimana bisa, saat dilaporkan, Kapolsek Wakate justru sedang di luar daerah.

Alhasil, salah satu anggota Polsek Wakate, lalu mengambil inisiatif, untuk menemani keluarga korban, agar laporan ditindaklanjuti ke Kantor Polsek Gorom pada hari yang sama. Ternyata, setelah laporan ini sampai di Kantor Polsek Gorom, hasilnya justru sama membosankan. Karena sejak laporan ini tiba, kasusnya tidak ditindaklanjuti oleh Polsek Gorom, dengan alasan tidak ada dana operasional ke lokasi kejadian di Teor.

Ali, sapaan pendeknya, membeberkan, karena dirasa tidak ada hasil setelah menunggu lama atas laporan yang sudah disampaikan ke Kantor Polsek Gorom, laporan ini kemudian dilanjutkan ke Kantor Polres Seram Bagian Timur (SBT) di Kota Bula. Paling tidak, dengan melaporkan kejadian ini di Kantor Polres SBT, kasusnya bisa segera diungkapkan. Ternyata, apa yang dikhawatirkan keluarga benar terjadi. Waktu sudah lewat dari masa laporan, yang disampaikan sejak sejak tanggal 22 September lalu, di Kantor Polres SBT. Hingga pekan ini, kasus kematian tragis di sebuah kebun ini, juga belum diungkapkan. Kalau harus dihitung, banyak sudah kasus kriminal yang mengenap dengan subur di Polres SBT. Dari sekian kasus itu, belum ada satupun yang bisa diselesaikan, terakhir, adanya kematian tragis yang dialami ibu rumah tangga asal Dusun Kilwouw, Kecamatan Wakate.

Mantan Presiden Mahasiswa IAIN Ambon ini, berharap, agar kepolisian SBT dapat segera memperjelas asal-muasal kematian almarhuma. Pasalnya, kematian almarhuma secara tidak wajar ini, telah menimbulkan kekalauan di lingkungan masyarakat. "Akibat pembunuhan ini, menyebabkan warga saling curiga. Untuk itulah, warga berharap kepada pihak polisi agar segera mengungkap kasus ini, sebelum ada korban balas dendam, atas kematian tragis ini. Bukan untuk profokasi, tapi ini kondisi riil, bahwa kepolisian di SBT sangat tidak profesional." Dirinya meminta kepada Kapolda Maluku, agar bisa terlibat langsung, dengan menginteruksikan kepada Kapolres SBT, AKBP Hasanuddin Mukaddar, untuk segera mengukapkan kasus ini. Pasalnya, semua masyarakat menanti kepastian dari lembaga kepolisian dalam mengungkap ada apa dan seperti apa kematian almarhuma. Kalaupun kematian almarhuma karena ada unsur kesengajaan, maka harus segera diungkapkan. Bila tidak, kasus ini akan segera dilaporkan ke Polda Maluku, sebagai bukti, bahwa Polres SBT tidak becus dalam melayani masyarakat. (***)


Jumat, 06 Agustus 2010

Provinsi Kepulauan dalam Perahu Sail Banda

Sail Banda, Lupakan Provinsi Kepulauan BENAR Sail Banda hanya nama dari kegiatan Sail Indonesia 2010 yang berpusat di Maluku. Kalau saja dipahami sedari awal, maka hakekat Sail Banda ibarat perahu. Karena dengan Sail Banda itulah, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono kembali menginjakkan kakinya di Maluku yang kelima kali. 

Kamis, 29 Juli 2010

14 Guru Amerika Serikat Kunjungi Maluku

Alam Maluku Laksana Ladang Emas

Keberadaan alam di Maluku baik darat maupun laut laksana ladang emas. Sayang sekali alam yang begitu menjanjikan ini belum tersentuh secara efisien oleh pemerintah. Setidaknya ini disampaikan langsung oleh Director Asia Pasicificed Program East-West Center, Namji Steinemenn saat berada di Maluku sejak tanggal, 24 Juli 2010. Namji bersama tiga belas teman gurunya akan berada di Maluku hingga tanggal 28 Juli. Selama berada di Maluku mereka belajar tentang alam dan budaya di negeri ini.

Ungkapan ladang emas tak hanya disampaikan Namji tapi juga ketiga belas teman gurunya. Bahkan menurut mereka, kalau saja pemerintah bisa menaruh kebaikannya dalam menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai, maka sumber alam di negeri ini bisa dikelola oleh masyarakat umum.

Grace Chao, guru matematika salah satu SMP di Honolulu (Hawaii) mengambil sampel dengan daerahnya. Kata dia, alam Hawai tak ubahnya dengan di Maluku. Mereka hidup di pesisir pantai. Untuk bisa bertahan hidup, pemerintah setempat menyediakan perlengkapan sarana dan prasarana yang berhubungan langsung dengan laut. Sebut dia sarana pariwisata misalnya. Dengan fasilitas pariwisata yang memadai, menarik masyarakat untuk bisa meraup keuntungan dari para wisatawan. Sungguh jauh berbeda dengan Maluku. Padahal daerah ini alamnya masih sangat alami bahkan belum dikotori oleh sampah. Ia lalu mengusulkan kepada Pemerintah Maluku maupun kabupaten/kota agar bisa belajar dari daerah lain. Pasalnya di Indonesia juga sudah banyak daerah yang maju dari hasil wisatanya.

Selama berada di Maluku keempat belas guru ini menyempatkan waktunya untuk bertatap muka dengan para guru, siswa, mahasiswa maupun masyarakat. Empat belas guru asal negeri Paman Sam mengunjungi Sekolah Menengah Atas (SMA) Siwalima Ambon di Desa Waiheru, Kecamatan Teluk Baguala, dan kampus Institut Agama Islam Negeri Ambon. Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda para guru asal Amerika Serikat, yang tiba di Ambon Minggu, 24 Juli kemarin. Dalam kunjungan kemarin, para guru yang berasal dari enam negara bagian di Amerika Serikat ini mendapat sambutan meriah. Baru tiba di pintu gerbang, para guru yang mendidik siswa SMP dan SMA di Amerika ini langsung dijamu dengan lagu dan tarian adat Maluku, termasuk tarian cakalele dan nyanyian 'pela gandong'.

Keterampilan para siswa di sekolah menengah unggulan itu, tak hanya membawa lagu dalam bahasa Indonesia, tapi juga bahasa Inggris. Lagu pela gandong disuguhkan dengan bahasa inggris, dalam lirik yang sama. Setelah berada di halaman kantor, para guru yang dipimpin oleh Director Asia Pasicificed Program East-West Center, Namji Steinemenn kembali disambut oleh dewan guru SMA Siwalima.

Didampingi Kepala SMA Siwalima, 15 guru yang ditemani oleh Rektor IAIN Ambon, Prof DR H Dedi Djubaedi, tiga mahasiswa IAIN serta dua staf LSM Tifa Damai Maluku, lalu dipersilahkan masuk ke dalam ruang kepala SMA Siwalama. Kurang lebih dua jam mereka berada di dalam ruang Kepsek SMA Siwalima.

Kepsek SMA Siwalima dalam keterangannya menyatakan, sekolah yang dipimpinnya menampung para siswa-siswi terbaik asal SMP negeri yang ada di seluruh kabupaten/kota di Maluku. Di SMA unggulan yang dibiayai oleh daerah ini, hanya memprogramkan satu bidang ilmu pengetahuan yakni Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sekolah ini menampung dua komunitas yang pernah bertikai di Maluku yakni Islam dan Kristen. Dari sekolah ini, para siswa kemudian menyatu dan belajar bersama. Selain mereka tinggalnya di sekolah ini juga memudahkan proses kontrol belajar siswa, yang ditargetkan menjadi siswa unggulan di Maluku.

Banyak cerita yang didapatkan para guru asal Amerika Serikat saat berada di SMA yang juga menampung para guru andalan di Maluku ini. Beberapa cerita menarik, bahkan menyita perhatian para guru asal negeri Paman Sam itu. Diantaranya soal kebersamaan para siswa dan guru SMA Siwalima. Kebersamaan itu dipraktekkan saat menjelang hari besar keagamaan. Karena di SMA Unggulan ini menampung siswa dari berbagai agama, ketika hari besar beragama, para siswa saling mengunjungi. "Misalkan di saat natal. Siswa dan guru yang muslim berkunjung ke guru dan siswa yang beragama Kristen. Sebaliknya ketika lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Para siswa dan guru Kristen berkunjung ke siswa dan guru yang beragama Islam." Semua ini terjadi selama para siswa berada di sekolah. Dengan tujuan untuk membangun hubungan sesama manusia yang hidup di muka bumi.

Panjang lebar Kepsek SMA Siwalima menceritakan apa yang sudah dilewati baik oleh para guru maupun siswa. Dengan harapan dapat menjadi keterangan kepada para guru asal Amerika Serikat itu. Setelah itu, Director Asia Pasicificed Program East-West Center, Namji Steinemenn memperkenalkan satu-persatu dari empat belas guru yang datang ke Maluku bersamanya. 14 guru yang terdiri dari Gayitri Indar, Diane Martinson-Koyama, Jeannine Kuropatkin, Screnity The, Chi-An Lin, Charlene Tevis, Michelle Swanger Alexander, Nina Wohl, Sara House, Linda Robinson, Grace Chao, Steven Shimmon dan Alexander Schwarz berasal dari San Fransisco, New York, Texas, Honolulu (Hawai), North Carolina, Connecticut, Oklahoma dan Meza Arizona.

Mereka ini ada yang membawa mata pelajaran bahasa, pelajaran sejarah bangsa-bangsa, geografi, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni lukis maupun matematika. Sesaat memperkenal diri, baik kelima belas guru asal Amerika Serikat maupun para dewan guru dari SMA Siwalima, lalu berbegas dan menuju ke ruang kelas siswa. Saat berada di ruang kelas, para guru dari Amerika itu berdialog langsung dengan siswa-siswi SMA Siwalima. Suasana kelas tak ubahnya di kelas bahasa Inggris. Pasalnya seluruh siswa berbaur dan hanya berbicara dengan bahasa inggris. Maklum, kali ini bukan guru bahasa Indonesia atau matematika atau IPA yang keseharian bersama dengan mereka. Tapi mereka belajar dan bermain langsung dengan para guru asal Amerika Serikat yang hanya bisa berbicara dan memahami bahasa Inggris. Tiga kelas yang sesungguhnya masih dalam suasana orientasi siswa baru itu, langsung bisa mengekspresikan kemampuan berbahasa inggris mereka.

Jeda tiga puluh menit kemudian, para guru ini dijamu dengan makanan khas Maluku. Ada singkong, patatas, pisang rebus yang dipadukan dengan sayur acar rebung yang terbuat dari tunas bambu serta ikan tongkol bakar. Para guru asal negeri Paman Sam ini tampak menikmati sekali hidangan yang disajikan ala khas Maluku. Ternyata acara makan siang itu menjadi lebih nikmat setelah para siswa-siswi menyuguhkan empat buah lagu dengan lirik Ambon. Udara siang itu lebih memperkaya pengalaman para guru yang merasa kagum-kagum dengan keindahan alam negeri ini.

Bahkan mereka merasa negeri ini laksana surga. Apa yang diinginkan oleh masyarakat semuanya telah tersedia. Makanan, minuman maupun buah-buahan, imbuh Charlene Tevis dan Gayitri Indar.

Usai menunaikan hajat di SMA Siwalima, para guru ini kemudian bertolak ke Pantai Liang. Di Pantai Liang, mereka melakukan dialog dengan masyarakat dari Desa Waai dan Desa Liang. Hanya beralaskan terpal, diskusipun berlangsung kurang lebih dua jam. Diskusi panjang itu menambah pengetahuan bagi mereka tentang budaya di Maluku, termasuk ketidakmampuan eksekutif dan legislatif dalam melihat segudang persoalan yang dihadapi masyarakat di lapangan. Ketidakmampuan eksekutif dan legislatif ini diungkapkan langsung oleh masyarakat.

Salah satunya soal sumber daya alam yang sampai saat ini tidak mampu dikelola oleh pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat. Sumber daya alam yang begitu luas di Maluku, bahkan dibenarkan oleh Chi-An Lin. Guru yang kini tinggalnya di Honolulu (Hawaii) ini merasa aneh dengan Pemerintah Maluku. Pasal mana kondisi alam yang melimpah ruah tak mampu digali secara efisien.

Ia lalu mengusulkan agar pemerintah menerapkan sistem pendidikan yang mengarah kepada pemanpaatan sumber alam itu. Misalnya pendidikan berbasis kepulauan ataupun berbasis kelautan. Kalau ini sudah dijalankan secara profesional, maka dengan sendirinya masyarakat di Maluku akan sejahtera.

Untuk menutup agenda mereka di Maluku, para guru ini mengajak para siswa dari dua sekolah yang berbeda yakni MTs Pondok Pesantren Darul Quran Al-anwariyah Tulehu dan SMP Rehoboth di Pantai Latuhalat, Selasa, 27 Juli. Mereka mencairkan perbedaan yang selama ini menjadi alat penghambat kesamaan, tanpa memandang suku, ras, agama dan bangsa di Pantai Latuhalat. (***)

Minggu, 18 Juli 2010

8 versus 29

Menoreh Eksistensi Parpol Dalam Pilkada SBT

ANGKA yang tidak sebanding. 8 versus 29. Ini merupakan jumlah parpol pendukung pasangan Calon Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) jilid dua, yang sudah berlangsung, 7 Juli lalu. Delapan parpol menyatakan dukungannya kepada pasangan, Abdul Mukti Keliobas - H Jusuf Rumatoras. 29 parpol menyatakan dukungannya kepada calon incumbent, Abdullah Vanath-Siti Umuria Suruwaky.

Dari angka, kita bisa membaca, kalau kemenangan hanya berpihak kepada calon incumbent, Abdullah Vanath-Siti Umuria Suruwaky. Alasannya cukup kuat. Jumlah parpol pendukung lebih banyak dibandingkan pasangan, Mukti-Jusuf, yang hanya mengantongi delapan parpol. Hanya saja, kita patut ingat, bahwa Pilkada demokrasi ditentukan oleh rakyat. Karena pilkada demokrasi, asalnya dari rakyat dan akan kembali ke rakyat.

Rakyatlah yang menentukan siapa pemimpin mereka. Rakyat yang memilih di saat berlangsungnya pemilihan. Sejarah bangsa mencatat, dalam catur perpolitikan, parpol tidak menjadi penentu kemenangan. Sebagai buktinya, bangsa Indonesia dipimpin oleh mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono. Yang sesungguhnya, dalam Pemilu sebelumnya dan pada pemilu 2009 lalu, SBY hanya mendapat dukungan dari Parpolnya. Parpol yang baru berusia umur jagung tersebut, mampu mengalahkan beberapa parpol koalisi, yang merupakan parpol penentu kemenangan selama kurun abad bangsa, dalam pencaturan dunia politik.

Itu artinya, pemilihan kepala daerah mutlak berasal dari rakyat dan akan kembali kepada rakyat. Parpol tidak selamanya menjadi tampu pemenang dalam suatu pemilihan kepala daerah. Kemenangan akan ditentukan oleh figur, siapa yang dicalonkan dan akan dipilih oleh rakyat.
Catatan kita untuk menengok Pilkada SBT, hanya berkaca kepada Parpol. Akibatnya, semua menoreh kemenangan kepada pasangan incumbent. Namun tidak kita sadari, kalau kuantitas parpol, tidak menjadi suara penentu.

Lalu! Kemana dan kepada siapa rakyat akan menaruh suaranya. Suara rakyat adalah suara alam. Suara alam yang menentukan maju mundurnya suatu daerah. Pilkada SBT jilid II ini, merupakan awal dari pra pembangunan di daerah hasil pemekaran Kabupaten Maluku Tengah tersebut. Yang akan menentukan daerah ini maju, adalah rakyat, bukan oknum yang mengaku pimpinan pasca Pilkada. Pilkada hanya alat, untuk menentukan eksistensi pemahaman masyarakat terhadap desain sistem politik bangsa, dalam mencapai negara demokrasi. Tanpa Pilkadapun, bangsa sudah mencatat dalam memory prakemerdekaan, bahwa negara ini menganut asas pancasila. Asas Pancasila yang mengandung nilai-nilai demokrasi.

Nilai demokrasi pancasila, hanya bisa diamanatkan kepada orang yang berasal dari rakyat. Orang yang dekat dan bekerja di atas terik matahari, makan dan bersilah dengan rakyat di atas bumi. Bukan seseorang atau kelompok yang berambisi untuk menjadi pemimpin. Karena, menjadi pemimpin bukanlah takhta untuk mengangkat derajat, harkat dan martabat seseorang. Tapi pemimpin, adalah amanat, yang kelak akan dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Hanya tinggal menghitung hari, warga SBT akan melihat nasib daerah mereka, untuk periode pembangunan lima tahun mendatang. Salah memilih calon pemimpin, maka akan salah selama lima tahun dalam pembangunan. Kesalahan dan kebenaran tidak bisa dipastikan oleh manusia. Tapi, naluri manusia ditakdirkan untuk bisa memfilter setiap keputusan yang hendak diambilnya. Memilih pemimpin yang baik, tidak ditentukan dengan nilai. Tapi memilih orang yang akan kita percayai sebagai pemimpin, dan siap membawa aspirasi masyarakat, akan ditentukan oleh nurani.

Memilih pemimpin tidak ditentukan dalam satu dua massa. Tapi satu menit berada di dalam kotak suara, adalah keputusan yang akan disesalkan selama 60 puluh minggu, 420 hari, 10,080 jam, bila pemimpin yang kita pilih meleset. Hari Senin 19 Juli ini, merupakan momentun sejarah rakyat SBT pasca pemilihan kepala daerah. Kemenangan sudah berpihak kepada siapa yang akan menjadi pemimpin. Perbedaan suara sungguh tidak jauh berbeda. Perbedaan ini jangan sampai menjadi silah kehidupan masyarakat SBT, yang dikenal dengan budayanya begitu kokoh. Bila menghendaki SBT dalam kemajuan, maka siapapun pemimpinnya yang sudah dipilih pada Pilkada kemarin, harus diterima secara demokrasi. Itu artinya, pembangunan lima tahun SBT pasca ditetapkan seorang Bupati Defenitif, mutlak ada di tangan rakyat. ****