Nunu oli Nunu seli Nunu karipatu Patue karinunu
(Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya (demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya).
Petatah-petitih Kapitang Achmad Ressy Wasiah IHO,
Yami Patasiwa Yami Patalima Yami Yama’a Kapitan Mat Lussy Matulu lalau hato Sapambuine Ma Parang kua Kompania Yami yama’a Kapitan Mat Lussy Isa Nusa messe Hario, Hario, Manu rusi’a yare uleu uleu `o Manu yasamma yare uleu-uleu `o Talano utala yare uleu-uleu `o Melano lette tuttua murine Yami malawan sua mena miyo Yami malawan sua muri neyo (Kami Patasiwa
Kami Patalima Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy Semua turun ke kota Saparua Berperang dengan Kompeni Belanda Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy Menjaga dan mempertahankan Semua pulau-pulau ini Tapi pemimpin sudah dibawa ditangkap Mari pulang semua Ke kampung halaman masing-masing Burung-burung garuda (laskar-laskar Hualoy) Sudah pulang-sudah pulang Burung-burung talang (laskar-laskar sekutu pulau-pulau) Sudah pulang-sudah pulang Ke kampung halaman mereka Di balik Nunusaku Kami sudah perang dengan Belanda Mengepung mereka dari depan Mengepung mereka dari belakang Kami sudah perang dengan Belanda Memukul mereka dari depan Memukul mereka dari belakang)
Keterangan ini mengingatkanku kepada sejarah Negeri Hualoy atau Samaohy Ririnita. Negeri yang letaknya di Pulau Seram ini, berhadapan dengan laut Banda, atau dengan Teluk Elpaputih. Hualoy, sudah dipimpin oleh 27 raja. Dari 27 raja ini, yang paling lama memegang mandat Raja, yakni H Yusuf Hehanussa.
Beliau ini dipercayakan menjadi Raja Samaohy Ririnita sebelum jaman kemerdekaan NKRI. Kalau Soeharto menjadi raja, selama 32 tahun, maka H Yusuf menjabat sebagai raja di Hualoy, selama 43 tahun. Ada hal yang menarik, kala dirinya menjadi raja.
Jaman merebut kemerdekaan, belum ada satu orangpun yang tau, kalau bendera kita kelak akan berbentuk Merah dan Putih. Oleh mendiang istri H Yusuf, beliau sudah lebih dulu menjahit dua warna ini, untuk menjadi lambang dalam setiap aktivitas adat masyarakat setempat.
Memiliki makna yang sama, merah, melambangkan darah dan berani, putih, melambangkan fitrah atau suci. Artinya, orang yang berani tampil di medan perang, harus memiliki jiwa yang suci. Karena jiwa yang suci, dia berani dan tidak takut kepada musuh, kecuali kepada Allah Swt.
Menurut mendiang almarhuma, bendera tersebut dijahit oleh beliau, berdasarkan isyarat burung Elang. Suatu pagi, ia sementara duduk di depan pintu rumah, tiba-tiba datang seekor burung Elang. Pada burung Elang tersebut, hanya memiliki warna merah dan putih. Dari sini, kemudian ia melihat sebuah keajaiban, dan menjahit bendera tersebut.
Bendera yang memiliki panjang, enam meter, lebar empat meter itu dijahit oleh tangannya sendiri. Dan di saat kemeredakaan NKRI dikomandankan, bendera hasil jaitan tangannya ini, kerap dipakai untuk melaksanakan upacara bendera kemerdekaan 17 Agustus.
Sayang sekali, bendera tersebut telah kusam, dan sudah tidak terawatkan lagi. Negeri Hualoy, atau Samaohi ririnita. Merupakan negeri yang berbentuk benteng.
Negeri ini, masih teringat, ketika konflik Maluku 1999, ada sebuah cahaya yang turun dari langit, dan itu disaksikan langsung oleh penulis. Selama hidup penulis, cahaya tersebut, belum pernah penulis temukan. Menurut keterangan petua di Negeri Hualoy saat itu, cahaya ini juga turun tepat di atas tiang alif Masjid Alfatah Ambon.
Usai cahaya tersebut turun, tiba-tiba bunyi sebuah ledakan dahsyat, yang sampai saat ini tidak diketahui orang negeri, dari mana sumber bunyi tersebut.
Menurut petatah negeri, kalau bunyi tersebut merupakan bunyi tifa tawuri, yang pertanda, genderang perang sudah dikomandangkan. Peperangan meminta bala bantuan dan putra-putra panglima perang dari negeri Hualoy, untuk segera menurunkan bantuannya kepada umat, yang sementara terjepit. ***
(Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya (demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya).
Petatah-petitih Kapitang Achmad Ressy Wasiah IHO,
Yami Patasiwa Yami Patalima Yami Yama’a Kapitan Mat Lussy Matulu lalau hato Sapambuine Ma Parang kua Kompania Yami yama’a Kapitan Mat Lussy Isa Nusa messe Hario, Hario, Manu rusi’a yare uleu uleu `o Manu yasamma yare uleu-uleu `o Talano utala yare uleu-uleu `o Melano lette tuttua murine Yami malawan sua mena miyo Yami malawan sua muri neyo (Kami Patasiwa
Kami Patalima Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy Semua turun ke kota Saparua Berperang dengan Kompeni Belanda Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy Menjaga dan mempertahankan Semua pulau-pulau ini Tapi pemimpin sudah dibawa ditangkap Mari pulang semua Ke kampung halaman masing-masing Burung-burung garuda (laskar-laskar Hualoy) Sudah pulang-sudah pulang Burung-burung talang (laskar-laskar sekutu pulau-pulau) Sudah pulang-sudah pulang Ke kampung halaman mereka Di balik Nunusaku Kami sudah perang dengan Belanda Mengepung mereka dari depan Mengepung mereka dari belakang Kami sudah perang dengan Belanda Memukul mereka dari depan Memukul mereka dari belakang)
Keterangan ini mengingatkanku kepada sejarah Negeri Hualoy atau Samaohy Ririnita. Negeri yang letaknya di Pulau Seram ini, berhadapan dengan laut Banda, atau dengan Teluk Elpaputih. Hualoy, sudah dipimpin oleh 27 raja. Dari 27 raja ini, yang paling lama memegang mandat Raja, yakni H Yusuf Hehanussa.
Beliau ini dipercayakan menjadi Raja Samaohy Ririnita sebelum jaman kemerdekaan NKRI. Kalau Soeharto menjadi raja, selama 32 tahun, maka H Yusuf menjabat sebagai raja di Hualoy, selama 43 tahun. Ada hal yang menarik, kala dirinya menjadi raja.
Jaman merebut kemerdekaan, belum ada satu orangpun yang tau, kalau bendera kita kelak akan berbentuk Merah dan Putih. Oleh mendiang istri H Yusuf, beliau sudah lebih dulu menjahit dua warna ini, untuk menjadi lambang dalam setiap aktivitas adat masyarakat setempat.
Memiliki makna yang sama, merah, melambangkan darah dan berani, putih, melambangkan fitrah atau suci. Artinya, orang yang berani tampil di medan perang, harus memiliki jiwa yang suci. Karena jiwa yang suci, dia berani dan tidak takut kepada musuh, kecuali kepada Allah Swt.
Menurut mendiang almarhuma, bendera tersebut dijahit oleh beliau, berdasarkan isyarat burung Elang. Suatu pagi, ia sementara duduk di depan pintu rumah, tiba-tiba datang seekor burung Elang. Pada burung Elang tersebut, hanya memiliki warna merah dan putih. Dari sini, kemudian ia melihat sebuah keajaiban, dan menjahit bendera tersebut.
Bendera yang memiliki panjang, enam meter, lebar empat meter itu dijahit oleh tangannya sendiri. Dan di saat kemeredakaan NKRI dikomandankan, bendera hasil jaitan tangannya ini, kerap dipakai untuk melaksanakan upacara bendera kemerdekaan 17 Agustus.
Sayang sekali, bendera tersebut telah kusam, dan sudah tidak terawatkan lagi. Negeri Hualoy, atau Samaohi ririnita. Merupakan negeri yang berbentuk benteng.
Negeri ini, masih teringat, ketika konflik Maluku 1999, ada sebuah cahaya yang turun dari langit, dan itu disaksikan langsung oleh penulis. Selama hidup penulis, cahaya tersebut, belum pernah penulis temukan. Menurut keterangan petua di Negeri Hualoy saat itu, cahaya ini juga turun tepat di atas tiang alif Masjid Alfatah Ambon.
Usai cahaya tersebut turun, tiba-tiba bunyi sebuah ledakan dahsyat, yang sampai saat ini tidak diketahui orang negeri, dari mana sumber bunyi tersebut.
Menurut petatah negeri, kalau bunyi tersebut merupakan bunyi tifa tawuri, yang pertanda, genderang perang sudah dikomandangkan. Peperangan meminta bala bantuan dan putra-putra panglima perang dari negeri Hualoy, untuk segera menurunkan bantuannya kepada umat, yang sementara terjepit. ***
trimaksih atas infonya.
BalasHapusBeliau memerintah tahun berapa?.Pemerhati sejarah daerah .AA Sumana
BalasHapus