"Daerah ini bisa menjadi centra pencetak uang di Maluku, karena ladang minyak buminya".
REALITAS Sumber Daya Manusia (SDM) di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) yang dilatarbelakangi dari sub pokok pendidikan sebelum daerah ini berpisah dengan Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), jauh sungguh mengalami ketertinggalan dari daerah lainnya di Maluku. Bahkan daerah ini seperti dijajah oleh pemerintah yang enggan putra daerahnya harus mengenyam pendidikan secara luas.
Beruntung di tahun 2003 daerah ini memilih untuk berdiri sendiri. Dengan susah payah, daerah yang dulunya ditempuh dari Ibukota Provinsi Maluku, Ambon, memakan waktu dua sampai tiga hari dan kini hanya membutuhkan tempo enam jam.
Setelah berdiri sendiri, pendidikan di SBT turut mengalami perubahan. Dalam periode pertama ini, perkembangannya sungguh luar biasa. Dimana letak keluarbiasaannya, masyarakat di daerah ini bisa dengan leluasa mengenyam pendidikan, lewat tangan-tangan dingin para leadhershif di daerah yang sebenarnya lebih dekat dengan Kabupaten Maluku Tenggara ini.
Kalau ditilik lebih dalam, sebenarnya SBT merupakan daerah penghasil atau bahkan boleh dibilang mesin pencetak uang untuk Provinsi Maluku. Prospek hasil bumi di daerah ini telah mempertahankan Maluku dari krisis ekonomi yang melanda nusantara pasca runtuhnya orde baru. Mei 1998, bangsa ini dilanda krisis berkepanjangan, tapi Maluku bisa berdiri dengan tegak. Maluku baru runtuh setelah dilanda konflik horizontal tahun 1999.
Dalam keadaan konflik, daerah ini tetap berdiri tegar, karena menjadi salah satu sumber minyak yang merupakan ladang emas, bagi para pengusaha berdasih. Walau SDA sangat menjanjikan, tapi daerah ini seperti dilupakan. Rakyatnya ditindas, mereka tak diberikan kebebasan untuk mengenyam pendidikan seperti warga lainnya di Maluku, kalah dikuasi Malteng.
Pemekaran SBT merupakan penerangan untuk daerah ini. Mengapa? Dalam tempo empat tahun, SDM-nya berubah drastis. Putra daerah dikirim mengikuti pendidikan di luar daerah, yang diharapkan menjadi tulang punggung pembangunan, layaknya Jepang ketika diterpa bom pada dua kota terbaik, Herosima dan Naga Sakti.
Dua kota ternama di Jepang ini, diruntuhkan oleh Amerika Serikat, untuk menghentikan semua gerakan kekuasaan Jepang yang melebar ke seluruh dunia. Taktik AS berhasil mengembalikan para sekuju Jepang yang mengepung seantero dunia. Alhasil, Bangsa Indonesia merdeka, karena ulah AS, yang mengirimkan dua bom waktunya ke Jepang.
Maka untuk membangkitkan kembali semangat pembangunan dan masyarakat Jepang, komponen pemuda dikirim mengikuti pendidikan di luar Jepang. Pengalaman bernilai ini, menjadi modal untuk diubahnya Jepang dalam tempo yang begitu singkat.
Alhasil, kejayaan Jepang kembali seperti semula. Kini Kota Herosima dan Nagasakti, kembali lebih indah dibandingkan masa sebelum diruntuhkan AS. Kuncinya, penguatan SDM. Lewat penguatan SDM daerah Jepang kembali berdiri kokoh dan mampu bersanding dengan AS, yang dibanggakan dunia kala itu. Kini Jepang merupakan satu-satunya negara di Benua Asia, yang terkenal di seantore dunia.
Mungkinkah SBT bisa menjadi Jepang, atau paling tidak bangkit dan sejajar dengan daerah lainnya di Maluku. Prospek pengembangan pendidikan di SBT, cukup menjanjikan. Hampir setiap tahun, ada putra daerah dikirim mengikuti pendidikan ke luar daerah. Mereka yang tak sadar dikirim ini, tak lain untuk bisa menjadi pion alias busur pemanah bagi pembangunan SBT, sama halnya dengan Jepang pasca diterpa ledakan dahsyat hasil kiriman AS.
SBT sejak berdiri sendiri, banyak perubahan sudah yang kita bisa rasakan, bila kita berjalan menuju ke daerah ini.
Peran utama Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dikor) SBT, telah menitipkan emas yang menjanjikan. Bukan emas batangan, bukan pula emas murni. Tapi emas yang melekat pada diri putra-putri daerah, yang saat ini berada di luar SBT, baik di STPDN, UGM, Unhas dan perguruan tinggi lainnya di Pulau Jawa, Sumatra dan Sulawesi.
Mereka itu yang dimaksudkan ‘emas’. Karena lewat tangan dan mainset mereka nanti, ke depannya SBT akan menjadi seperti apa. Empat tahun dinas pendidikan memiliki peran utama, untuk mengelolah tatanan sumber daya manusia SBT, yang kalau dikelola dengan baik maka mereka lebih baik dari Malteng.
Mengapa tidak? Hasil konsumsi makanan yang masih alami menjadi kunci kalau SDM di daerah ini sangat baik. Maka, untuk mengelolahnya ke depan, Dinas P dan K kini terus bangkit dan maju untuk menelusuri lorong-lorong warga yang sulit dijama hingga kini.
Dengan bermodalkan anggaran seadanya, ‘katinting’ atau kapal kayu buatan rakyat merupakan alat penghubung bagi dinas ini untuk mengajak warganya agar bisa keluar dari kemiskinan, terutama ketertinggalan pendidikan. Hanya dengan satu cara, rangkul putra-putri di daerah ini untuk bebas mengikuti pendidikan. Mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan lebih pentingnya perguruan tinggi.
Bukan hanya mengirimkan para tamatan SMA, fisik pembangunan yang merupakan payung untuk membangkitkan semangat pendidikan juga dibangun parmanen. Sejak dinakhodai oleh, pendidikan di SBT sudah berubah drastis. Masyarakat bebas dan leluasa merebut pendidikan.***
Beruntung di tahun 2003 daerah ini memilih untuk berdiri sendiri. Dengan susah payah, daerah yang dulunya ditempuh dari Ibukota Provinsi Maluku, Ambon, memakan waktu dua sampai tiga hari dan kini hanya membutuhkan tempo enam jam.
Setelah berdiri sendiri, pendidikan di SBT turut mengalami perubahan. Dalam periode pertama ini, perkembangannya sungguh luar biasa. Dimana letak keluarbiasaannya, masyarakat di daerah ini bisa dengan leluasa mengenyam pendidikan, lewat tangan-tangan dingin para leadhershif di daerah yang sebenarnya lebih dekat dengan Kabupaten Maluku Tenggara ini.
Kalau ditilik lebih dalam, sebenarnya SBT merupakan daerah penghasil atau bahkan boleh dibilang mesin pencetak uang untuk Provinsi Maluku. Prospek hasil bumi di daerah ini telah mempertahankan Maluku dari krisis ekonomi yang melanda nusantara pasca runtuhnya orde baru. Mei 1998, bangsa ini dilanda krisis berkepanjangan, tapi Maluku bisa berdiri dengan tegak. Maluku baru runtuh setelah dilanda konflik horizontal tahun 1999.
Dalam keadaan konflik, daerah ini tetap berdiri tegar, karena menjadi salah satu sumber minyak yang merupakan ladang emas, bagi para pengusaha berdasih. Walau SDA sangat menjanjikan, tapi daerah ini seperti dilupakan. Rakyatnya ditindas, mereka tak diberikan kebebasan untuk mengenyam pendidikan seperti warga lainnya di Maluku, kalah dikuasi Malteng.
Pemekaran SBT merupakan penerangan untuk daerah ini. Mengapa? Dalam tempo empat tahun, SDM-nya berubah drastis. Putra daerah dikirim mengikuti pendidikan di luar daerah, yang diharapkan menjadi tulang punggung pembangunan, layaknya Jepang ketika diterpa bom pada dua kota terbaik, Herosima dan Naga Sakti.
Dua kota ternama di Jepang ini, diruntuhkan oleh Amerika Serikat, untuk menghentikan semua gerakan kekuasaan Jepang yang melebar ke seluruh dunia. Taktik AS berhasil mengembalikan para sekuju Jepang yang mengepung seantero dunia. Alhasil, Bangsa Indonesia merdeka, karena ulah AS, yang mengirimkan dua bom waktunya ke Jepang.
Maka untuk membangkitkan kembali semangat pembangunan dan masyarakat Jepang, komponen pemuda dikirim mengikuti pendidikan di luar Jepang. Pengalaman bernilai ini, menjadi modal untuk diubahnya Jepang dalam tempo yang begitu singkat.
Alhasil, kejayaan Jepang kembali seperti semula. Kini Kota Herosima dan Nagasakti, kembali lebih indah dibandingkan masa sebelum diruntuhkan AS. Kuncinya, penguatan SDM. Lewat penguatan SDM daerah Jepang kembali berdiri kokoh dan mampu bersanding dengan AS, yang dibanggakan dunia kala itu. Kini Jepang merupakan satu-satunya negara di Benua Asia, yang terkenal di seantore dunia.
Mungkinkah SBT bisa menjadi Jepang, atau paling tidak bangkit dan sejajar dengan daerah lainnya di Maluku. Prospek pengembangan pendidikan di SBT, cukup menjanjikan. Hampir setiap tahun, ada putra daerah dikirim mengikuti pendidikan ke luar daerah. Mereka yang tak sadar dikirim ini, tak lain untuk bisa menjadi pion alias busur pemanah bagi pembangunan SBT, sama halnya dengan Jepang pasca diterpa ledakan dahsyat hasil kiriman AS.
SBT sejak berdiri sendiri, banyak perubahan sudah yang kita bisa rasakan, bila kita berjalan menuju ke daerah ini.
Peran utama Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dikor) SBT, telah menitipkan emas yang menjanjikan. Bukan emas batangan, bukan pula emas murni. Tapi emas yang melekat pada diri putra-putri daerah, yang saat ini berada di luar SBT, baik di STPDN, UGM, Unhas dan perguruan tinggi lainnya di Pulau Jawa, Sumatra dan Sulawesi.
Mereka itu yang dimaksudkan ‘emas’. Karena lewat tangan dan mainset mereka nanti, ke depannya SBT akan menjadi seperti apa. Empat tahun dinas pendidikan memiliki peran utama, untuk mengelolah tatanan sumber daya manusia SBT, yang kalau dikelola dengan baik maka mereka lebih baik dari Malteng.
Mengapa tidak? Hasil konsumsi makanan yang masih alami menjadi kunci kalau SDM di daerah ini sangat baik. Maka, untuk mengelolahnya ke depan, Dinas P dan K kini terus bangkit dan maju untuk menelusuri lorong-lorong warga yang sulit dijama hingga kini.
Dengan bermodalkan anggaran seadanya, ‘katinting’ atau kapal kayu buatan rakyat merupakan alat penghubung bagi dinas ini untuk mengajak warganya agar bisa keluar dari kemiskinan, terutama ketertinggalan pendidikan. Hanya dengan satu cara, rangkul putra-putri di daerah ini untuk bebas mengikuti pendidikan. Mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan lebih pentingnya perguruan tinggi.
Bukan hanya mengirimkan para tamatan SMA, fisik pembangunan yang merupakan payung untuk membangkitkan semangat pendidikan juga dibangun parmanen. Sejak dinakhodai oleh, pendidikan di SBT sudah berubah drastis. Masyarakat bebas dan leluasa merebut pendidikan.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar