Sholat mengalir di setiap pekerjaanku. Sholat
mengalir di setiap awal niatku. Bersama sholat, aku mulai segala aktifitas. Sadar,
sebagai makhluk yang tak memiliki daya kecuali dengan rohnya Allah SWT, aku
bisa melaksanakan seluruh kegiatanku. Setiap hari, aku hanya menyisipkan
beberapa menit untuk mengerjakan sholat. Padahal, sholat sesungguhnya tak hanya
menjadi ibadah wajib bagiku, tapi lebih dari itu. Lewat perantaraan Sholatlah,
aku bisa mengenal seisi dunia dengan baik dan sadar. Bahwa sesungguhnya, dengan
sholat, aku mampu menuntun jalanku menuju penerangan.
Rabu, 20 Maret 2013
Mengintip Huru-Hara Demokrat Maluku
Kemana Palu KPU, Vanath Atau Puttileihalat
Mengurus politik memang gampang sulit. Apalagi sudah berhadapan dengan aturan. Semua partai politik punya aturan. Tapi ingat, Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga punya aturan, selaku lembaga penyelenggaraan Pemilu milik negara yang indenpent.
Rabu, 21 September 2011
ARMC IAIN Ambon Ajak Berdamai Sejati
***Abidin Wakanno: Ada Kesan Konflik Dipelihara ***
Oleh : Ismail Hehanussa
KONFLIK 1999 menjadi catatan suram bagi segenap warga di Maluku. Lambat laun, trauma konflik 1999 serasa tenggelam dimakan waktu. Hidup damai masyarakat di negeri kepulauan ini tumbuh sempurna bak cakrawala. Namun, acap kali konflik selalu menjadi persoalan pembatas dibalik sisi kehidupan sosial masyarakat. Ini kemudian meniscayakan bahwa konflik orang Maluku, seakan dipelihara bak anak 'harimau' di taman kota. Ketika sudah dewasa, anak 'harimau' itu, meronta dan ingin mengadu fisik. Ibaratnya bom waktu, ketika saatnya tiba, bom tersebut diledakan.
Senin, 07 Februari 2011
Bangun Kualitas, Harus Rendah Hati
***Merawat Maluku--Sambut Nirwana Bersemayam Para Mu'alim
Catatan : Ismail Hehanussa
Rektor Lantik Pengurus BEM IAIN Ambon
REKTOR Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon Prof DR H Dedi Djubaedi, M.Ag, resmi melantik Kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAIN Ambon periode 2011-2012. Pelantikan yang dipusatkan di gedung Aula IAIN Ambon, Jumat, 4 Februari kemarin, juga dihadiri oleh aktivisi 80-an, yang juga staf pengajar di Universitas Indonesia, sekaligus Chief Executive Officer PolMarkIndonesia (political marketing conculting) Eep Saefulloh Fatah.
Selasa, 11 Januari 2011
Pecah Tahun dalam Pertemuan
Catatan Merah Seorang Gadis
KISAH ini bukan fiktif, melainkan fakta yang saya kemas dari kisah nyata sahabat kecilku. Pagi itu saya berjalan menelusuri lorong-lorong kota untuk mencari jejak sumber informasi keberadaan sahabat kecilku. Usaha untuk mencari sahabatku itu datang, ketika saya mendapatkan kabar, kalau sahabat kecilku sekarang berada di Kota Ambon. Saya masih ingat, perpisahan kami akibat terjadinya konflik horisontal sepuluh tahun silam, yang melanda negeri raja-raja ini.
Oleh : SY
Jumat, 17 Desember 2010
Menanti Hukum dalam Perlindungan Wartawan
***Polisi ? Apa Memang Nyawa Kami = Seekor Ayam
Oleh : Ismail Hehanussa
Radar Ambon
SATU lagi wartawan di Maluku meninggal akibat dibunuh. Baru beberapa bulan lalu, kita dikagetkan dengan kematian Ridwan Salamun, wartawan SUNTV, yang dibunuh secara tidak manusiawi. Rasanya, duka bagi pekerja kuli tinta di Maluku tak ada habis. Untuk menutup akhir tahun 2010 saja, kita harus kehilangan dua orang teman.
Selasa, 14 Desember 2010
IAIN Ambon Gelar Lomba Hadrat dan MTQ
Jemput MTQ Nasional, IAIN Ambon Gelar Lomba Hadrat dan MTQ
***Grup Hadrat Iha Lengkong-Liang Sabet Juara I
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, yang menjadi satu-satunya perguruan tinggi negeri Islam di Maluku, kini telah menyiapkan dirinya, untuk menjemput Musabaqah Tilawaltil Quran (MTQ) Nasional ke-24 tahun 2012, yang akan digelar di Provinsi Maluku nanti. Salah satu bentuk kesiapan yang nampak dari IAIN Ambon, dengan adanya digelar Festival Seni Hadrat dan Lomba MTQ, oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) (IAIN), Senin, 13 Desember.
Kegiatan yang mengusung tema, "dengan Festival Seni Hadrat serta Lomba MTQ, kita kembangkan bakat dan potensi remaja Islam Maluku dalam rangka menyonsong MTQ Tingkat Nasional ke-24 tahun 2012 di Provinsi Maluku", ini dipusatkan di GOR IAIN Ambon, dengan menghadirkan enam grup peserta lomba Seni Hadrat; Wakasihu, Hila, Tulehu, Iha Lengkong, Batumerah dan Remas Kampus IAIN Ambon. Sementara untuk lomba MTQ terdiri dari peserta tilawah delapan orang, peserta hipzil quran enam orang, kaligrafi sembilan orang.
Ketua Panitia Lomba DR Fahmi Salatalohy, usai acara pembukaan menjelaskan, kegiatan ini sebagai jembatan kepada LPM IAIN Ambon, dalam menggali potensi remaja Islam, yang kemudian dikembangkan. Pasalnya, saat ini seni budaya Islam di Provinsi Maluku sudah mulai funah. Maka lewat kegiatan ini, LPM IAIN Ambon dapat menggali dan mengeksploitasi kembali seni budaya Islam yang sudah mengakar dari para leluhur Islam di Negeri Raja-raja ini. Doktor filsafat ini, mengkhatirkan, bila tidak dilakukan lomba seperti ini, lambat laun seni budaya Islam di Maluku, akan dimakan oleh ganasnya arus globalisasi, yang kini terus merusak lingkungan pergaulan kaula muda di Maluku.
Selebihnya, doktor alumnus UGM Yogya ini mengakui, kalau kegiatan yang berlangsung kemarin, merupakan salah satu bentuk dukungan IAIN Ambon, dalam menjemput agenda MTQ Nasional yang akan dilangsungkan di Maluku pada tahun 2012 mendatang. Doktor muda ini berharap, agar kegiatan ini dapat memberikan motifasi kepada generasi muda Islam di Maluku, untuk senantiasa merawat dan melestarikan budaya mereka. Pasalnya, pengaruh arus globalisasi terkini dapat merusak akhlak generasi muda Islam, kalau tidak difilter dengan kegiatan-kegiatan Islami. Khusunya dalam rangka menyambut MTQ Nasional pada 2012 mendatang di Maluku, dirinya berharap agar seluruh pimpinan di Maluku untuk saling bergandengan tangan. Pasalnya, kegiatan MTQ yang akan berlangsung di Maluku nanti, merupakan wahana yang paling tepat untuk melakukan ekploitasi terhadap nilai-nilai seni budaya Islam yang ada di negeri raja-raja ini. Hal serupa juga diharapkan oleh Rektor IAIN Ambon Prof DR H Dedi Djubaedi, ketika memberikan sambutan dalam acara pembukaan ini. Dedi selaku Rektor IAIN Ambon, merasa kagum dengan suksesnya kegiatan kemarin.
Untuk itulah, dirinya berharap agar kegiatan festival yang berlangsung kemarin, dalam dikembangkan menjadi lebih akbar lagi. Kalau kemarin hanya melibatkan peserta yang ada di Pulau Ambon, maka ke depan kata dia, akan ditingkatkan lagi, dengan melibatkan seluruh peserta dari seluruh daerah yang ada di Maluku. Dan kalau perlu, kata dia, tak hanya dilakukan di IAIN Ambon, tapi di pusat Kota Ambon. Ungkapan serupa, kembali disampaikan secara tertulis dalam acara penutupan, yang dibacakan oleh Purek Bidang Akademik IAIN Ambon Drs Hasbollah Toisuta, M.Ag. Dalam sambutan acara penutupan kemarin, rektor lewat Hasbollah mengharapkan, agar dalam event-event serupa yang akan dilakukan oleh IAIN Ambon ke depan nanti, dapat difasilitasi dengan bantuan oleh Pemprov Maluku. Sebab, lomba yang dilangsungkan kemarin, merupakan salah satu bentuk wujud pengaplikasian ketrampilan seni Islam masyarakat Maluku. "Orang Maluku kayak dengan budaya Islam. Tinggal bagaimana IAIN Ambon melihat persoalan ini. Nah..! Lomba yang berlangsung saat ini, merupakan starting poin untuk kegiatan akbar selanjutnya nanti," janji rektor lewat sambutan Hasbollah Toisuta, dalam acara penutupan kemarin. (***)
***Grup Hadrat Iha Lengkong-Liang Sabet Juara I
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, yang menjadi satu-satunya perguruan tinggi negeri Islam di Maluku, kini telah menyiapkan dirinya, untuk menjemput Musabaqah Tilawaltil Quran (MTQ) Nasional ke-24 tahun 2012, yang akan digelar di Provinsi Maluku nanti. Salah satu bentuk kesiapan yang nampak dari IAIN Ambon, dengan adanya digelar Festival Seni Hadrat dan Lomba MTQ, oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) (IAIN), Senin, 13 Desember.
Kegiatan yang mengusung tema, "dengan Festival Seni Hadrat serta Lomba MTQ, kita kembangkan bakat dan potensi remaja Islam Maluku dalam rangka menyonsong MTQ Tingkat Nasional ke-24 tahun 2012 di Provinsi Maluku", ini dipusatkan di GOR IAIN Ambon, dengan menghadirkan enam grup peserta lomba Seni Hadrat; Wakasihu, Hila, Tulehu, Iha Lengkong, Batumerah dan Remas Kampus IAIN Ambon. Sementara untuk lomba MTQ terdiri dari peserta tilawah delapan orang, peserta hipzil quran enam orang, kaligrafi sembilan orang.
Ketua Panitia Lomba DR Fahmi Salatalohy, usai acara pembukaan menjelaskan, kegiatan ini sebagai jembatan kepada LPM IAIN Ambon, dalam menggali potensi remaja Islam, yang kemudian dikembangkan. Pasalnya, saat ini seni budaya Islam di Provinsi Maluku sudah mulai funah. Maka lewat kegiatan ini, LPM IAIN Ambon dapat menggali dan mengeksploitasi kembali seni budaya Islam yang sudah mengakar dari para leluhur Islam di Negeri Raja-raja ini. Doktor filsafat ini, mengkhatirkan, bila tidak dilakukan lomba seperti ini, lambat laun seni budaya Islam di Maluku, akan dimakan oleh ganasnya arus globalisasi, yang kini terus merusak lingkungan pergaulan kaula muda di Maluku.
Selebihnya, doktor alumnus UGM Yogya ini mengakui, kalau kegiatan yang berlangsung kemarin, merupakan salah satu bentuk dukungan IAIN Ambon, dalam menjemput agenda MTQ Nasional yang akan dilangsungkan di Maluku pada tahun 2012 mendatang. Doktor muda ini berharap, agar kegiatan ini dapat memberikan motifasi kepada generasi muda Islam di Maluku, untuk senantiasa merawat dan melestarikan budaya mereka. Pasalnya, pengaruh arus globalisasi terkini dapat merusak akhlak generasi muda Islam, kalau tidak difilter dengan kegiatan-kegiatan Islami. Khusunya dalam rangka menyambut MTQ Nasional pada 2012 mendatang di Maluku, dirinya berharap agar seluruh pimpinan di Maluku untuk saling bergandengan tangan. Pasalnya, kegiatan MTQ yang akan berlangsung di Maluku nanti, merupakan wahana yang paling tepat untuk melakukan ekploitasi terhadap nilai-nilai seni budaya Islam yang ada di negeri raja-raja ini. Hal serupa juga diharapkan oleh Rektor IAIN Ambon Prof DR H Dedi Djubaedi, ketika memberikan sambutan dalam acara pembukaan ini. Dedi selaku Rektor IAIN Ambon, merasa kagum dengan suksesnya kegiatan kemarin.
Untuk itulah, dirinya berharap agar kegiatan festival yang berlangsung kemarin, dalam dikembangkan menjadi lebih akbar lagi. Kalau kemarin hanya melibatkan peserta yang ada di Pulau Ambon, maka ke depan kata dia, akan ditingkatkan lagi, dengan melibatkan seluruh peserta dari seluruh daerah yang ada di Maluku. Dan kalau perlu, kata dia, tak hanya dilakukan di IAIN Ambon, tapi di pusat Kota Ambon. Ungkapan serupa, kembali disampaikan secara tertulis dalam acara penutupan, yang dibacakan oleh Purek Bidang Akademik IAIN Ambon Drs Hasbollah Toisuta, M.Ag. Dalam sambutan acara penutupan kemarin, rektor lewat Hasbollah mengharapkan, agar dalam event-event serupa yang akan dilakukan oleh IAIN Ambon ke depan nanti, dapat difasilitasi dengan bantuan oleh Pemprov Maluku. Sebab, lomba yang dilangsungkan kemarin, merupakan salah satu bentuk wujud pengaplikasian ketrampilan seni Islam masyarakat Maluku. "Orang Maluku kayak dengan budaya Islam. Tinggal bagaimana IAIN Ambon melihat persoalan ini. Nah..! Lomba yang berlangsung saat ini, merupakan starting poin untuk kegiatan akbar selanjutnya nanti," janji rektor lewat sambutan Hasbollah Toisuta, dalam acara penutupan kemarin. (***)
Kamis, 04 November 2010
92 Hari, Pemkot Kejar Rp14 M untuk Retribusi
DALAM kalender masehi di tahun 2010, hanya sisa 92 hari sudah berganti tahun ke 2011. Sisa waktu 92 hari atau lebih dari dua bulan itulah, yang kini menjadi tanggungan berat bagi seluruh Pimpinan Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD), yang ada di jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon. Tanggungan untuk bagaimana mengejar retribusi, guna menutupi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sudah dipatok senilai Rp25 miliar di tahun ini.
Bagaimana tidak, selama kurang lebih tiga triwulan kemarin, Pemkot Ambon hanya bisa panen Rp11 miliar. Sisanya, harus dikejar dalam kurun waktu 29 hari ke depan. Bila tidak, defisit Anggaran Pembangunan Belanja Daerah (APBD) tahun 2009 kemarin, akan membengkak. Di sisi lain, tahun 2011, merupakan sisa akhir masa jabatan Walikota Ambon MJ Papilaja dan Wakilnya Olivia Latuconsina. Bila tidak mencapai Rp25 miliar dalam tempo 29 hari, maka kedua pimpinan ini, akan meninggalkan dosa dari masa jabatan mereka. Dosa berupa defisit anggaran, yang tentunya akan menjadi beban kepada pimpinan berikutnya. Lalu bagaimana dengan tunjangan para PNS yang selama ini mengabdi di Pemkot Ambon, namun belum juga dibayar. Tentunya, tunjangan itu akan dibayar, bila Pemkot Ambon bisa menuai PAD yang efisien dalam kurun 19 Oktober hingga 31 Desember. Kalau ternyata tidak juga, maka beban yang ditelorkan oleh MJ Papilaja-Olivia semakin membludak.
Seperti diketahui, kepulangan MJ Papilaja Cs dari pelawatannya ke Negeri Belanda, langsung diwarnai pergantian para pejabat pimpinan SKPD akhir pekan kemarin. Menariknya, pergantian ini dengan alasan untuk mencapai target PAD tahun 2010 yang sudah dipatok senilai Rp25 miliar. Kalau tidak, maka pergantian itu bernilai hampa di mata Papilaja Cs. Kepada mereka yang baru dilantik, Papilaja, meminta mereka agar bisa menarik retribusi sebanyak mungkin, guna menutupi defisit APBD tahun kemarin. Pasalnya, hingga masuk triwulan ketiga, Pemkot Ambon baru bisa menghasilkan PAD senilai Rp11 miliar. Sisanya Rp14 miliar harus dikejar dalam kurun waktu 29 hari ke depan.
Seharusnya, menurut Kepala Bidang Pendapatan pada Dinas Pendapatan Kota (Dispengkot) Ambon Lina Silooy, tahun 2010 ini, PAD Kota Ambon melebihi angka Rp25 miliar, tapi yang terjadi justru minus. "Rp25 miliar itu belum termasuk dalam target PAD perubahan yang masih sementara dibahas di DPRD, dan pasti melebihi angka tersebut. Tapi kita tetap optimis untuk capai target yang ditentukan," kata pekan kemarin kepada wartawan.
Sementara hasil pengamatan National Committe Supervision of Parlementer (NCSP) Wilayah Kota Ambon, jumlah retribusi di Kota Ambon kalau dikelola secara efisien, maka APD yang ditargetkan Rp25 miliar bisa tercapai. Bahkan, nilai ini bisa dicapai dalam hitungan satu semester. Pasalnya, di Kota Ambon seluruh pajak diberlakukan. Mulai dari retribusi parkir, retribusi PKL, pedagangan asongan, angkutan kota, restoran, rumah kopi, pariwisata, hotel, penginapan, pemasangan reklame, termasuk IMB. Nah, semua retribusi ini, sangat tidak mustahil kalau PAD Kota Ambon berada di level Rp11 miliar dalam hitungan semester. "Coba kita lihat, berapa jumlah PKL yang ada di Kota Ambon. Pajak PKL, parkiran, dan pajak mobil angkutan kota ini berlaku setiap hari, termasuk hari libur. Lalu, kemana kira-kira uang pajak tersebut, kalau bukan ke kas daerah," kata Priyanto, staf Riset dan Informasi NCSP Wilayah Kota Ambon. Menurut dia, bila seluruh pejabat dan staf pada setiap SKPD di Pemkot Ambon bisa berlaku profesional, akuntabel dan transparansi setiap menjalankan tugas mereka, maka jumlah Rp25 miliar terlalu sedikit bila dikalkulasikan dengan jumlah penarikan retribusi Kota Ambon. "Ketika kami melakukan riset data retribusi di sejumlah pedagang PKL maupun pedagang tetap di seputar Ruko Pasar Mardika saja, angkanya per bulan bisa mencapai puluhan juta. Itu baru PKL, belum masuk pada penarikan lainnya, termasuk uang keamanan." Kata dia, kalau semua ini diatur dengan baik, maka Kota Ambon tidak pernah mengalami defisit anggaran. Pasalnya, Kota Ambon merupakan central berputarnya uang di Maluku. Dari laba pendapatan bank yang ada di Maluku saja, menunjukan angka simpanan, dan angka belanja yang naik drastis, bagaimana dengan retribusi, pasti lebih normal lagi, beber dia, sembari membandingkan dengan Kabupaten Badung, Provinsi Bali, yang tidak memberlakukan retribusi parkir dan masuk pariwisata saja, bisa menjadi daerah penghasil PAD terbesar di Bali.
Dirinya menyarankan kepada seluruh pimpinan SKPD Pemkot Ambon, termasuk Walikota MJ Papilaja dan Wakilnya Olivia Latuconsina, agar bisa melakukan fungsi kontrol mereka di lapangan. Pasalnya, dari hasil survey mereka di lapangan, ternyata ada calo yang kerap meraibkan hasil retribusi ini. Sehingga, target PAD yang sudah ditetapkan, sulit tercapai, akibat retribusi tersebut putus di tengah jalan. "Soalan yang mendasar di lapangan adalah, ternyata banyak calo yang berkeliaran. Sebut misalnya, calo parkir, calo PKL dan sebagainya. Bila ini ditertibkan, maka PAD akan menjadi gampang dikontrol," saran pria berdarah Arab Sunda ini. (***)
Seperti diketahui, kepulangan MJ Papilaja Cs dari pelawatannya ke Negeri Belanda, langsung diwarnai pergantian para pejabat pimpinan SKPD akhir pekan kemarin. Menariknya, pergantian ini dengan alasan untuk mencapai target PAD tahun 2010 yang sudah dipatok senilai Rp25 miliar. Kalau tidak, maka pergantian itu bernilai hampa di mata Papilaja Cs. Kepada mereka yang baru dilantik, Papilaja, meminta mereka agar bisa menarik retribusi sebanyak mungkin, guna menutupi defisit APBD tahun kemarin. Pasalnya, hingga masuk triwulan ketiga, Pemkot Ambon baru bisa menghasilkan PAD senilai Rp11 miliar. Sisanya Rp14 miliar harus dikejar dalam kurun waktu 29 hari ke depan.
Seharusnya, menurut Kepala Bidang Pendapatan pada Dinas Pendapatan Kota (Dispengkot) Ambon Lina Silooy, tahun 2010 ini, PAD Kota Ambon melebihi angka Rp25 miliar, tapi yang terjadi justru minus. "Rp25 miliar itu belum termasuk dalam target PAD perubahan yang masih sementara dibahas di DPRD, dan pasti melebihi angka tersebut. Tapi kita tetap optimis untuk capai target yang ditentukan," kata pekan kemarin kepada wartawan.
Sementara hasil pengamatan National Committe Supervision of Parlementer (NCSP) Wilayah Kota Ambon, jumlah retribusi di Kota Ambon kalau dikelola secara efisien, maka APD yang ditargetkan Rp25 miliar bisa tercapai. Bahkan, nilai ini bisa dicapai dalam hitungan satu semester. Pasalnya, di Kota Ambon seluruh pajak diberlakukan. Mulai dari retribusi parkir, retribusi PKL, pedagangan asongan, angkutan kota, restoran, rumah kopi, pariwisata, hotel, penginapan, pemasangan reklame, termasuk IMB. Nah, semua retribusi ini, sangat tidak mustahil kalau PAD Kota Ambon berada di level Rp11 miliar dalam hitungan semester. "Coba kita lihat, berapa jumlah PKL yang ada di Kota Ambon. Pajak PKL, parkiran, dan pajak mobil angkutan kota ini berlaku setiap hari, termasuk hari libur. Lalu, kemana kira-kira uang pajak tersebut, kalau bukan ke kas daerah," kata Priyanto, staf Riset dan Informasi NCSP Wilayah Kota Ambon. Menurut dia, bila seluruh pejabat dan staf pada setiap SKPD di Pemkot Ambon bisa berlaku profesional, akuntabel dan transparansi setiap menjalankan tugas mereka, maka jumlah Rp25 miliar terlalu sedikit bila dikalkulasikan dengan jumlah penarikan retribusi Kota Ambon. "Ketika kami melakukan riset data retribusi di sejumlah pedagang PKL maupun pedagang tetap di seputar Ruko Pasar Mardika saja, angkanya per bulan bisa mencapai puluhan juta. Itu baru PKL, belum masuk pada penarikan lainnya, termasuk uang keamanan." Kata dia, kalau semua ini diatur dengan baik, maka Kota Ambon tidak pernah mengalami defisit anggaran. Pasalnya, Kota Ambon merupakan central berputarnya uang di Maluku. Dari laba pendapatan bank yang ada di Maluku saja, menunjukan angka simpanan, dan angka belanja yang naik drastis, bagaimana dengan retribusi, pasti lebih normal lagi, beber dia, sembari membandingkan dengan Kabupaten Badung, Provinsi Bali, yang tidak memberlakukan retribusi parkir dan masuk pariwisata saja, bisa menjadi daerah penghasil PAD terbesar di Bali.
Dirinya menyarankan kepada seluruh pimpinan SKPD Pemkot Ambon, termasuk Walikota MJ Papilaja dan Wakilnya Olivia Latuconsina, agar bisa melakukan fungsi kontrol mereka di lapangan. Pasalnya, dari hasil survey mereka di lapangan, ternyata ada calo yang kerap meraibkan hasil retribusi ini. Sehingga, target PAD yang sudah ditetapkan, sulit tercapai, akibat retribusi tersebut putus di tengah jalan. "Soalan yang mendasar di lapangan adalah, ternyata banyak calo yang berkeliaran. Sebut misalnya, calo parkir, calo PKL dan sebagainya. Bila ini ditertibkan, maka PAD akan menjadi gampang dikontrol," saran pria berdarah Arab Sunda ini. (***)
Senin, 04 Oktober 2010
Polres SBT "Mandul" -- Kematian Tragis di Wakate Didiamkan
***Korban Meninggal, Hamil 2 Bulan
***Jasadnya Ditemukan Satu Hari Sebelum Lebaran Id
DARI sekian data kriminal yang pernah diterima Radar Ambon, dalam kasus kriminal biasa, sampai tingkat pembunuhan di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), belum ada satupun yang tuntas diselesaikan oleh aparat Polres SBT. Tepat, Selasa, 7 September sebelum puncak Idul Fitri 1431 hijriah lalu, warga Desa Teor, Dusun Kilwouw, Kecamatan Wakate Seram Bagian Timur (SBT), dikagetkan dengan adanya kehilangan seorang ibu rumah tangga, Sariah Totroman (28). Hilangnya ibu rumah tangga yang dikabarkan sedang mengandung dua bulan ini, membuat seluruh warga Dusun Kilwouw fanik "takaruang". Setidaknya ini dibeberkan Tokoh Pemuda Wakate, Fransisco Alimuddin Kolatlena, setelah berada di Kota Ambon, Senin, 4 Oktober.
Secara sukarelawan, warga lalu menyusuri lereng gunung dan hutan untuk mencari keberadaan korban. Satu hari penuh warga mencari ke seluruh titik lokasi keberadaan korban di hutan, namun tidak membuahkan hasil. Warga yang tak pupus, terus berusaha menelusuri hutan yang sungguh menantang tersebut. Tepat, Kamis, 9 September, sekira Pukul 15.00 Wit, korban baru bisa ditemukan oleh suaminya sendiri pada salah satu kebun milik warga. Besar harapan suami korban, bisa jumpa dengan istri kesayangannya dalam keadaan sehat walafiat atau paling tidak masih hidup. Ternyata, harapan suami korban, Mustafa Tatroman (32), pupus setelah melihat jasad sang istri dalam keadaan "terlentang" di atas rerumputan tanpa bernyawa. Kondisi tubuh korban juga terlihat "sadis", karena baru ditemukan dua hari setelah dibunuh secara "sadis". Kendati baru dugaan, namun ada banyak hal yang bisa membuktikan, kalau kematian ibu rumah tangga, yang sementara mengandung dua bulan ini, akibat dibunuh.
Hal ini terbukti, pada pipi kanan korban terdapat luka robek bekas hantaman benda tajam, leher terdapat luka tusuk maupun membengkak hingga menimbulkan warna kebiruan, selayaknya dicekik. Selain itu, bola mata korban juga berubah posisi dari aslinya. Pada telapak kaki korban juga terdapat bekas luka tusukan, lengkap dengan kondisi pakaian yang dipakai terlihat sobek serta tidak karuan. Memang, kondisi pakaian korban bisa dimaklumi, karena jasadnya diduga meninggal dua hari sebelum ditemukan.
Dari hasil pencarian yang begitu melelahkan, warga kemudian melaporkan penemuan jasad ibu rumah tangga yang sudah dikaruniai enam orang anak ini, kepada Polsek Wakate di Kecamatan Kesui. Sembari sebagian warga berangkat ke Polsek Wakate di Kesui, sebagiannya lagi mendirikan "tenda", untuk mengawal jasad korban di lokasi kejadian. Jarak tempuh antara Polsek dengan lokasi kejadian, yang memakan waktu kurang lebih satu jam, yang ditempuh dengan "motor tempel", membuat kondisi ini semakin runyam. Pasalnya, sejak jasad korban ditemukan pada Pukul 15.00 Wit dan dilaporkan ke Polsek sekira Pukul 16.00 Wit, salah satu anggota Polsek Wakate, ditemani seorang mantri, bersama warga yang melaporkan kejadian ini, baru bisa tiba di lokasi penemuan jasad korban sekira Pukul 00.00 Wit dini hari. Patut dimaklumi, selain harus menyeberangi laut untuk menghubungkan dengan Polsek Wakate, lokasi penemuan jasad korban jauh dari pekampungan warga. Paling tidak, warga harus menguras tenaga dengan menempuh jarak ke lokasi penemuan jasad korban, kurang lebih 2 kilo meter, yang ditempuh dengan berjalan kaki. Sementara di lokasi kejadian, warga yang sedang mengawal keberadaan jasad ibu rumah tangga ini, terus menanti dengan harap-harap cemas. Suasana malam di hutan, membuat warga terus cemas. Pasalnya, pada pukul 00.00 Wit, satu anggota polisi dan mantri yang dijemput warga baru bisa tiba di lokasi kejadian. Kedatangan mereka, membuat kondisi semakin mencekam, karena selain berada di hutan, juga jasad korban semakin parah. Karena itu, jasad almarhuma lalu dihantar pulang oleh warga, yang sudah meratapi kondisi ini sejak siang tadi, dari lokasi kejadian menuju kediamannya di Dusun Kilwouw.
Sementara dari seberang negeri, terdengar sahutan suara takbir, tahmid dan tahlilan menyambut hari kemenangan Idul Fitri 1431 Hijriah, setelah melewati puasa satu bulan penuh. Suasana menikmati kemenangan lebaran pada siang nanti, serasa pupus dimakan musibah, yang ternyata baru pertama kali terjadi di negeri ini. Perjalanan warga yang sedari siang mengawasi jasad korban dari makhluk lain, sekira Pukul 02.30 Wit dini hari, tiba sudah di pekampuangan warga. Jasad istri Mustafa Tatroman(32) ini, lalu dihantar secara bersama dengan iringan tahmid dan tahlili, menuju kediamannya. Sementara di kediaman almarhuma, anak-anak dan sanak keluarganya, menanti dalam balutan tangis dan duka.
Setiba di rumah almarhuma, jasadnya lalu diistiratkan sejenak, kemudian dimandikan, dikafani, lalu semayamkan ke bumi sekira Pukul 04.00 Wit dini hari itu juga. "Kepergian almarhuma secara tragis ini, masih menyimpan duka dan tandanya begitu mendalam, baik dari keluarga maupun masyarakat di dusun ini," tutur Tokoh Pemuda Wakate mantan Fungsionaris HMI Cabang Ambon ini.
Alimuddin mengutarakan, kepergian almarhuma masih menyimpan sejuta tanya dari masyarakat setempat. Pasalnya, sejak kematian almarhuma, langsung dilaporkan kepada aparat kepolisian baik di Polsek Wakate, maupun Polsek Gorom. Laporan yang disampaikan langsung oleh keluarga korban kepada kepolisian ini, dengan harapan agar bisa diungkapkan, siapa dalang dibalik kematian ibu yang sudah dikarunia enam orang anak ini. Sayang sekali, dalam penantian, ternyata kepolisian hanya diam "adem". Pasalnya, sejak laporan sampai di Kantor Polsek Wakate tiga hari setelah penemuan jasad almarhuma, tidak ada balasan balik. Bagaimana bisa, saat dilaporkan, Kapolsek Wakate justru sedang di luar daerah.
Alhasil, salah satu anggota Polsek Wakate, lalu mengambil inisiatif, untuk menemani keluarga korban, agar laporan ditindaklanjuti ke Kantor Polsek Gorom pada hari yang sama. Ternyata, setelah laporan ini sampai di Kantor Polsek Gorom, hasilnya justru sama membosankan. Karena sejak laporan ini tiba, kasusnya tidak ditindaklanjuti oleh Polsek Gorom, dengan alasan tidak ada dana operasional ke lokasi kejadian di Teor.
Ali, sapaan pendeknya, membeberkan, karena dirasa tidak ada hasil setelah menunggu lama atas laporan yang sudah disampaikan ke Kantor Polsek Gorom, laporan ini kemudian dilanjutkan ke Kantor Polres Seram Bagian Timur (SBT) di Kota Bula. Paling tidak, dengan melaporkan kejadian ini di Kantor Polres SBT, kasusnya bisa segera diungkapkan. Ternyata, apa yang dikhawatirkan keluarga benar terjadi. Waktu sudah lewat dari masa laporan, yang disampaikan sejak sejak tanggal 22 September lalu, di Kantor Polres SBT. Hingga pekan ini, kasus kematian tragis di sebuah kebun ini, juga belum diungkapkan. Kalau harus dihitung, banyak sudah kasus kriminal yang mengenap dengan subur di Polres SBT. Dari sekian kasus itu, belum ada satupun yang bisa diselesaikan, terakhir, adanya kematian tragis yang dialami ibu rumah tangga asal Dusun Kilwouw, Kecamatan Wakate.
Mantan Presiden Mahasiswa IAIN Ambon ini, berharap, agar kepolisian SBT dapat segera memperjelas asal-muasal kematian almarhuma. Pasalnya, kematian almarhuma secara tidak wajar ini, telah menimbulkan kekalauan di lingkungan masyarakat. "Akibat pembunuhan ini, menyebabkan warga saling curiga. Untuk itulah, warga berharap kepada pihak polisi agar segera mengungkap kasus ini, sebelum ada korban balas dendam, atas kematian tragis ini. Bukan untuk profokasi, tapi ini kondisi riil, bahwa kepolisian di SBT sangat tidak profesional." Dirinya meminta kepada Kapolda Maluku, agar bisa terlibat langsung, dengan menginteruksikan kepada Kapolres SBT, AKBP Hasanuddin Mukaddar, untuk segera mengukapkan kasus ini. Pasalnya, semua masyarakat menanti kepastian dari lembaga kepolisian dalam mengungkap ada apa dan seperti apa kematian almarhuma. Kalaupun kematian almarhuma karena ada unsur kesengajaan, maka harus segera diungkapkan. Bila tidak, kasus ini akan segera dilaporkan ke Polda Maluku, sebagai bukti, bahwa Polres SBT tidak becus dalam melayani masyarakat. (***)
***Jasadnya Ditemukan Satu Hari Sebelum Lebaran Id
DARI sekian data kriminal yang pernah diterima Radar Ambon, dalam kasus kriminal biasa, sampai tingkat pembunuhan di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), belum ada satupun yang tuntas diselesaikan oleh aparat Polres SBT. Tepat, Selasa, 7 September sebelum puncak Idul Fitri 1431 hijriah lalu, warga Desa Teor, Dusun Kilwouw, Kecamatan Wakate Seram Bagian Timur (SBT), dikagetkan dengan adanya kehilangan seorang ibu rumah tangga, Sariah Totroman (28). Hilangnya ibu rumah tangga yang dikabarkan sedang mengandung dua bulan ini, membuat seluruh warga Dusun Kilwouw fanik "takaruang". Setidaknya ini dibeberkan Tokoh Pemuda Wakate, Fransisco Alimuddin Kolatlena, setelah berada di Kota Ambon, Senin, 4 Oktober.
Secara sukarelawan, warga lalu menyusuri lereng gunung dan hutan untuk mencari keberadaan korban. Satu hari penuh warga mencari ke seluruh titik lokasi keberadaan korban di hutan, namun tidak membuahkan hasil. Warga yang tak pupus, terus berusaha menelusuri hutan yang sungguh menantang tersebut. Tepat, Kamis, 9 September, sekira Pukul 15.00 Wit, korban baru bisa ditemukan oleh suaminya sendiri pada salah satu kebun milik warga. Besar harapan suami korban, bisa jumpa dengan istri kesayangannya dalam keadaan sehat walafiat atau paling tidak masih hidup. Ternyata, harapan suami korban, Mustafa Tatroman (32), pupus setelah melihat jasad sang istri dalam keadaan "terlentang" di atas rerumputan tanpa bernyawa. Kondisi tubuh korban juga terlihat "sadis", karena baru ditemukan dua hari setelah dibunuh secara "sadis". Kendati baru dugaan, namun ada banyak hal yang bisa membuktikan, kalau kematian ibu rumah tangga, yang sementara mengandung dua bulan ini, akibat dibunuh.
Hal ini terbukti, pada pipi kanan korban terdapat luka robek bekas hantaman benda tajam, leher terdapat luka tusuk maupun membengkak hingga menimbulkan warna kebiruan, selayaknya dicekik. Selain itu, bola mata korban juga berubah posisi dari aslinya. Pada telapak kaki korban juga terdapat bekas luka tusukan, lengkap dengan kondisi pakaian yang dipakai terlihat sobek serta tidak karuan. Memang, kondisi pakaian korban bisa dimaklumi, karena jasadnya diduga meninggal dua hari sebelum ditemukan.
Dari hasil pencarian yang begitu melelahkan, warga kemudian melaporkan penemuan jasad ibu rumah tangga yang sudah dikaruniai enam orang anak ini, kepada Polsek Wakate di Kecamatan Kesui. Sembari sebagian warga berangkat ke Polsek Wakate di Kesui, sebagiannya lagi mendirikan "tenda", untuk mengawal jasad korban di lokasi kejadian. Jarak tempuh antara Polsek dengan lokasi kejadian, yang memakan waktu kurang lebih satu jam, yang ditempuh dengan "motor tempel", membuat kondisi ini semakin runyam. Pasalnya, sejak jasad korban ditemukan pada Pukul 15.00 Wit dan dilaporkan ke Polsek sekira Pukul 16.00 Wit, salah satu anggota Polsek Wakate, ditemani seorang mantri, bersama warga yang melaporkan kejadian ini, baru bisa tiba di lokasi penemuan jasad korban sekira Pukul 00.00 Wit dini hari. Patut dimaklumi, selain harus menyeberangi laut untuk menghubungkan dengan Polsek Wakate, lokasi penemuan jasad korban jauh dari pekampungan warga. Paling tidak, warga harus menguras tenaga dengan menempuh jarak ke lokasi penemuan jasad korban, kurang lebih 2 kilo meter, yang ditempuh dengan berjalan kaki. Sementara di lokasi kejadian, warga yang sedang mengawal keberadaan jasad ibu rumah tangga ini, terus menanti dengan harap-harap cemas. Suasana malam di hutan, membuat warga terus cemas. Pasalnya, pada pukul 00.00 Wit, satu anggota polisi dan mantri yang dijemput warga baru bisa tiba di lokasi kejadian. Kedatangan mereka, membuat kondisi semakin mencekam, karena selain berada di hutan, juga jasad korban semakin parah. Karena itu, jasad almarhuma lalu dihantar pulang oleh warga, yang sudah meratapi kondisi ini sejak siang tadi, dari lokasi kejadian menuju kediamannya di Dusun Kilwouw.
Sementara dari seberang negeri, terdengar sahutan suara takbir, tahmid dan tahlilan menyambut hari kemenangan Idul Fitri 1431 Hijriah, setelah melewati puasa satu bulan penuh. Suasana menikmati kemenangan lebaran pada siang nanti, serasa pupus dimakan musibah, yang ternyata baru pertama kali terjadi di negeri ini. Perjalanan warga yang sedari siang mengawasi jasad korban dari makhluk lain, sekira Pukul 02.30 Wit dini hari, tiba sudah di pekampuangan warga. Jasad istri Mustafa Tatroman(32) ini, lalu dihantar secara bersama dengan iringan tahmid dan tahlili, menuju kediamannya. Sementara di kediaman almarhuma, anak-anak dan sanak keluarganya, menanti dalam balutan tangis dan duka.
Setiba di rumah almarhuma, jasadnya lalu diistiratkan sejenak, kemudian dimandikan, dikafani, lalu semayamkan ke bumi sekira Pukul 04.00 Wit dini hari itu juga. "Kepergian almarhuma secara tragis ini, masih menyimpan duka dan tandanya begitu mendalam, baik dari keluarga maupun masyarakat di dusun ini," tutur Tokoh Pemuda Wakate mantan Fungsionaris HMI Cabang Ambon ini.
Alimuddin mengutarakan, kepergian almarhuma masih menyimpan sejuta tanya dari masyarakat setempat. Pasalnya, sejak kematian almarhuma, langsung dilaporkan kepada aparat kepolisian baik di Polsek Wakate, maupun Polsek Gorom. Laporan yang disampaikan langsung oleh keluarga korban kepada kepolisian ini, dengan harapan agar bisa diungkapkan, siapa dalang dibalik kematian ibu yang sudah dikarunia enam orang anak ini. Sayang sekali, dalam penantian, ternyata kepolisian hanya diam "adem". Pasalnya, sejak laporan sampai di Kantor Polsek Wakate tiga hari setelah penemuan jasad almarhuma, tidak ada balasan balik. Bagaimana bisa, saat dilaporkan, Kapolsek Wakate justru sedang di luar daerah.
Alhasil, salah satu anggota Polsek Wakate, lalu mengambil inisiatif, untuk menemani keluarga korban, agar laporan ditindaklanjuti ke Kantor Polsek Gorom pada hari yang sama. Ternyata, setelah laporan ini sampai di Kantor Polsek Gorom, hasilnya justru sama membosankan. Karena sejak laporan ini tiba, kasusnya tidak ditindaklanjuti oleh Polsek Gorom, dengan alasan tidak ada dana operasional ke lokasi kejadian di Teor.
Ali, sapaan pendeknya, membeberkan, karena dirasa tidak ada hasil setelah menunggu lama atas laporan yang sudah disampaikan ke Kantor Polsek Gorom, laporan ini kemudian dilanjutkan ke Kantor Polres Seram Bagian Timur (SBT) di Kota Bula. Paling tidak, dengan melaporkan kejadian ini di Kantor Polres SBT, kasusnya bisa segera diungkapkan. Ternyata, apa yang dikhawatirkan keluarga benar terjadi. Waktu sudah lewat dari masa laporan, yang disampaikan sejak sejak tanggal 22 September lalu, di Kantor Polres SBT. Hingga pekan ini, kasus kematian tragis di sebuah kebun ini, juga belum diungkapkan. Kalau harus dihitung, banyak sudah kasus kriminal yang mengenap dengan subur di Polres SBT. Dari sekian kasus itu, belum ada satupun yang bisa diselesaikan, terakhir, adanya kematian tragis yang dialami ibu rumah tangga asal Dusun Kilwouw, Kecamatan Wakate.
Mantan Presiden Mahasiswa IAIN Ambon ini, berharap, agar kepolisian SBT dapat segera memperjelas asal-muasal kematian almarhuma. Pasalnya, kematian almarhuma secara tidak wajar ini, telah menimbulkan kekalauan di lingkungan masyarakat. "Akibat pembunuhan ini, menyebabkan warga saling curiga. Untuk itulah, warga berharap kepada pihak polisi agar segera mengungkap kasus ini, sebelum ada korban balas dendam, atas kematian tragis ini. Bukan untuk profokasi, tapi ini kondisi riil, bahwa kepolisian di SBT sangat tidak profesional." Dirinya meminta kepada Kapolda Maluku, agar bisa terlibat langsung, dengan menginteruksikan kepada Kapolres SBT, AKBP Hasanuddin Mukaddar, untuk segera mengukapkan kasus ini. Pasalnya, semua masyarakat menanti kepastian dari lembaga kepolisian dalam mengungkap ada apa dan seperti apa kematian almarhuma. Kalaupun kematian almarhuma karena ada unsur kesengajaan, maka harus segera diungkapkan. Bila tidak, kasus ini akan segera dilaporkan ke Polda Maluku, sebagai bukti, bahwa Polres SBT tidak becus dalam melayani masyarakat. (***)
Jumat, 06 Agustus 2010
Provinsi Kepulauan dalam Perahu Sail Banda
Sail Banda, Lupakan Provinsi Kepulauan
BENAR Sail Banda hanya nama dari kegiatan Sail Indonesia 2010 yang berpusat di Maluku. Kalau saja dipahami sedari awal, maka hakekat Sail Banda ibarat perahu. Karena dengan Sail Banda itulah, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono kembali menginjakkan kakinya di Maluku yang kelima kali.
Kamis, 29 Juli 2010
14 Guru Amerika Serikat Kunjungi Maluku
Alam Maluku Laksana Ladang Emas
Keberadaan alam di Maluku baik darat maupun laut laksana ladang emas. Sayang sekali alam yang begitu menjanjikan ini belum tersent
uh secara efisien oleh pemerintah. Setidaknya ini disampaikan langsung oleh Director Asia Pasicificed Program East-West Center, Namji Steinemenn saat berada di Maluku sejak tanggal, 24 Juli 2010. Namji bersama tiga belas teman gurunya akan berada di Maluku hingga tanggal 28 Juli. Selama berada di Maluku mereka belajar tentang alam dan budaya di negeri ini.
Ungkapan ladang emas tak hanya disampaikan Namji tapi juga ketiga belas teman gurunya. Bahkan menurut mereka, kalau saja pemerintah bisa menaruh kebaikannya dalam menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai, maka sumber alam di negeri ini bisa dikelola oleh masyarakat umum.
Grace Chao, guru matematika salah satu SMP di Honolulu (Hawaii) mengambil sampel dengan daerahnya. Kata dia, alam Hawai tak ubahnya dengan di Maluku. Mereka hidup di pesisir pantai. Untuk bisa bertahan hidup, pemerintah setempat menyediakan perlengkapan sarana dan prasarana yang berhubungan langsung dengan laut. Sebut dia sarana pariwisata misalnya. Deng
an fasilitas pariwisata yang memadai, menarik masyarakat untuk bisa meraup keuntungan dari para wisatawan. Sungguh jauh berbeda dengan Maluku. Padahal daerah ini alamnya masih sangat alami bahkan belum dikotori oleh sampah. Ia lalu mengusulkan kepada Pemerintah Maluku maupun kabupaten/kota agar bisa belajar dari daerah lain. Pasalnya di Indonesia juga sudah banyak daerah yang maju dari hasil wisatanya.
Selama berada di Maluku keempat belas guru ini menyempatkan waktunya untuk bertatap muka dengan para guru, siswa, mahasiswa maupun masyarakat. Empat belas guru asal negeri Paman Sam mengunjungi Sekolah Menengah Atas (SMA) Siwalima Ambon di Desa Waiheru, Kecamatan Teluk Baguala, dan kampus Institut Agama Islam Negeri Ambon. Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda para guru asal Amerika Serikat, yang tiba di Ambon Minggu, 24 Juli kemarin. Dalam kunjungan kemarin, para guru yang berasal dari enam negara bagian di Amerika Serikat ini mendapat sambutan meriah. Baru tiba di pintu gerbang, para guru yang mendidik siswa SMP dan SMA di Amerika ini langsung dijamu dengan lagu dan tarian adat Maluku, termasuk tarian cakalele dan nyanyian 'pela gandong'.
Keterampilan para siswa di sekolah menengah unggulan itu, tak hanya membawa lagu dalam bahasa Indonesia, tapi juga bahasa Inggris. Lagu pela gandong disuguhkan dengan bahasa inggris, dalam lirik yang sama. Setelah berada di halaman kantor, para guru yang dipimpin oleh Director Asia Pasicificed Program East-West Center, Namji Steinemenn kembali disambut oleh dewan guru SMA Siwalima.
Didampingi Kepala SMA Siwalima, 15 guru yang ditemani oleh Rektor IAIN Ambon, Prof DR H Dedi Djubaedi, tiga mahasiswa IAIN serta dua staf LSM Tifa Damai Maluku, lalu dipersilahkan masuk ke dalam ruang kepala SMA Siwalama. Kurang lebih dua jam mereka berada di dalam ruang Kepsek SMA Siwalima.
Kepsek SMA Siwalima dalam keterangannya menyatakan, sekolah yang dipimpinnya menampung para siswa-siswi terbaik asal SMP negeri yang ada di seluruh kabupaten/kota di Maluku. Di SMA unggulan yang dibiayai oleh daerah ini, hanya memprogramkan satu bidang ilmu pengetahuan yakni Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sekolah ini menampung dua komunitas yang pernah bertikai di Maluku yakni Islam dan Kristen. Dari sekolah ini, para siswa kemudian menyatu dan belajar bersama. Selain mereka tinggalnya di sekolah ini juga memudahkan proses kontrol belajar siswa, yang ditargetkan menjadi siswa unggulan di Maluku.
Banyak cerita yang didapatkan para guru asal Amerika Serikat saat berada di SMA yang juga menampung para guru andalan di Maluku ini. Beberapa cerita menarik, bahkan menyita perhatian para guru asal negeri Paman Sam itu. Diantaranya soal kebersamaan para siswa dan guru SMA Siwalima. Kebersamaan itu dipraktekkan saat menjelang hari besar keagamaan. Karena di SMA Unggulan ini menampung siswa dari berbagai agama, ketika hari besar beragama, para siswa saling mengunjungi. "Misalkan di saat natal. Siswa dan guru yang muslim berkunjung ke guru dan siswa yang beragama Kristen. Sebaliknya ketika lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Para siswa dan guru Kristen berkunjung ke siswa dan guru yang beragama Islam." Semua ini terjadi selama para siswa berada di sekolah. Dengan tujuan untuk membangun hubungan sesama manusia yang hidup di muka bumi.
Panjang lebar Kepsek SMA Siwalima menceritakan apa yang sudah dilewati baik oleh para guru maupun siswa. Dengan harapan dapat menjadi keterangan kepada para guru asal Amerika Serikat itu. Setelah itu, Director Asia Pasicificed Program East-West Center, Namji Steinemenn memperkenalkan satu-persatu dari empat belas guru yang datang ke Maluku bersamanya. 14 guru yang terdiri dari Gayitri Indar, Diane Martinson-Koyama, Jeannine Kuropatkin, Screnity The, Chi-An Lin, Charlene Tevis, Michelle Swanger Alexander, Nina Wohl, Sara House, Linda Robinson, Grace Chao, Steven Shimmon dan Alexander Schwarz berasal dari San Fransisco, New York, Texas, Honolulu (Hawai), North Carolina, Connecticut, Oklahoma dan Meza Arizona.
Mereka ini ada yang membawa mata pelajaran bahasa, pelajaran sejarah bangsa-bangsa, geografi, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni lukis maupun matematika. Sesaat memperkenal diri, baik kelima belas guru asal Amerika Serikat maupun para dewan guru dari SMA Siwalima, lalu berbegas dan menuju ke ruang kelas siswa. Saat berada di ruang kelas, para guru dari Amerika itu berdialog langsung dengan siswa-siswi SMA Siwalima. Suasana kelas tak ubahnya di kelas bahasa Inggris. Pasalnya seluruh siswa berbaur dan hanya berbicara dengan bahasa inggris. Maklum, kali ini bukan guru bahasa Indonesia atau matematika atau IPA yang keseharian bersama dengan mereka. Tapi mereka belajar dan bermain langsung dengan para guru asal Amerika Serikat yang hanya bisa berbicara dan memahami bahasa Inggris. Tiga kelas yang sesungguhnya masih dalam suasana orientasi siswa baru itu, langsung bisa mengekspresikan kemampuan berbahasa inggris mereka.
Jeda tiga puluh menit kemudian, para guru ini dijamu dengan makanan khas Maluku. Ada singkong, patatas, pisang rebus yang dipadukan dengan sayur acar rebung yang terbuat dari tunas bambu serta ikan tongkol bakar. Para guru asal negeri Paman Sam ini tampak menikmati sekali hidangan yang disajikan ala khas Maluku. Ternyata acara makan siang itu menjadi lebih nikmat setelah para siswa-siswi menyuguhkan empat buah lagu dengan lirik Ambon. Udara siang itu lebih memperkaya pengalaman para guru yang merasa kagum-kagum dengan keindahan alam negeri ini.
Bahkan mereka merasa negeri ini laksana surga. Apa yang diinginkan oleh masyarakat semuanya telah tersedia. Makanan, minuman maupun buah-buahan, imbuh Charlene Tevis dan Gayitri Indar.
Usai menunaikan hajat di SMA Siwalima, para guru ini kemudian bertolak ke Pantai Liang. Di Pantai Liang, mereka melakukan dialog dengan masyarakat dari Desa Waai dan Desa Liang. Hanya beralaskan terpal, diskusipun berlangsung kurang lebih dua jam. Diskusi panjang itu menambah pengetahuan bagi mereka tentang budaya di Maluku, termasuk ketidakmampuan eksekutif dan legislatif dalam melihat segudang persoalan yang dihadapi masyarakat di lapangan. Ketidakmampuan eksekutif dan legislatif ini diungkapkan langsung oleh masyarakat.
Salah satunya soal sumber daya alam yang sampai saat ini tidak mampu dikelola oleh pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat. Sumber daya alam yang begitu luas di Maluku, bahkan dibenarkan oleh Chi-An Lin. Guru yang kini tinggalnya di Honolulu (Hawaii) ini merasa aneh dengan Pemerintah Maluku. Pasal mana kondisi alam yang melimpah ruah tak mampu digali secara efisien.
Ia lalu mengusulkan agar pemerintah menerapkan sistem pendidikan yang mengarah kepada pemanpaatan sumber alam itu. Misalnya pendidikan berbasis kepulauan ataupun berbasis kelautan. Kalau ini sudah dijalankan secara profesional, maka dengan sendirinya masyarakat di Maluku akan sejahtera.
Untuk menutup agenda mereka di Maluku, para guru ini mengajak para siswa dari dua sekolah yang berbeda yakni MTs Pondok Pesantren Darul Quran Al-anwariyah Tulehu dan SMP Rehoboth di Pantai Latuhalat, Selasa, 27 Juli. Mereka mencairkan perbedaan yang selama ini menjadi alat penghambat kesamaan, tanpa memandang suku, ras, agama dan bangsa di Pantai Latuhalat. (***)
Grace Chao, guru matematika salah satu SMP di Honolulu (Hawaii) mengambil sampel dengan daerahnya. Kata dia, alam Hawai tak ubahnya dengan di Maluku. Mereka hidup di pesisir pantai. Untuk bisa bertahan hidup, pemerintah setempat menyediakan perlengkapan sarana dan prasarana yang berhubungan langsung dengan laut. Sebut dia sarana pariwisata misalnya. Deng
Selama berada di Maluku keempat belas guru ini menyempatkan waktunya untuk bertatap muka dengan para guru, siswa, mahasiswa maupun masyarakat. Empat belas guru asal negeri Paman Sam mengunjungi Sekolah Menengah Atas (SMA) Siwalima Ambon di Desa Waiheru, Kecamatan Teluk Baguala, dan kampus Institut Agama Islam Negeri Ambon. Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda para guru asal Amerika Serikat, yang tiba di Ambon Minggu, 24 Juli kemarin. Dalam kunjungan kemarin, para guru yang berasal dari enam negara bagian di Amerika Serikat ini mendapat sambutan meriah. Baru tiba di pintu gerbang, para guru yang mendidik siswa SMP dan SMA di Amerika ini langsung dijamu dengan lagu dan tarian adat Maluku, termasuk tarian cakalele dan nyanyian 'pela gandong'.
Keterampilan para siswa di sekolah menengah unggulan itu, tak hanya membawa lagu dalam bahasa Indonesia, tapi juga bahasa Inggris. Lagu pela gandong disuguhkan dengan bahasa inggris, dalam lirik yang sama. Setelah berada di halaman kantor, para guru yang dipimpin oleh Director Asia Pasicificed Program East-West Center, Namji Steinemenn kembali disambut oleh dewan guru SMA Siwalima.
Didampingi Kepala SMA Siwalima, 15 guru yang ditemani oleh Rektor IAIN Ambon, Prof DR H Dedi Djubaedi, tiga mahasiswa IAIN serta dua staf LSM Tifa Damai Maluku, lalu dipersilahkan masuk ke dalam ruang kepala SMA Siwalama. Kurang lebih dua jam mereka berada di dalam ruang Kepsek SMA Siwalima.
Kepsek SMA Siwalima dalam keterangannya menyatakan, sekolah yang dipimpinnya menampung para siswa-siswi terbaik asal SMP negeri yang ada di seluruh kabupaten/kota di Maluku. Di SMA unggulan yang dibiayai oleh daerah ini, hanya memprogramkan satu bidang ilmu pengetahuan yakni Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sekolah ini menampung dua komunitas yang pernah bertikai di Maluku yakni Islam dan Kristen. Dari sekolah ini, para siswa kemudian menyatu dan belajar bersama. Selain mereka tinggalnya di sekolah ini juga memudahkan proses kontrol belajar siswa, yang ditargetkan menjadi siswa unggulan di Maluku.
Banyak cerita yang didapatkan para guru asal Amerika Serikat saat berada di SMA yang juga menampung para guru andalan di Maluku ini. Beberapa cerita menarik, bahkan menyita perhatian para guru asal negeri Paman Sam itu. Diantaranya soal kebersamaan para siswa dan guru SMA Siwalima. Kebersamaan itu dipraktekkan saat menjelang hari besar keagamaan. Karena di SMA Unggulan ini menampung siswa dari berbagai agama, ketika hari besar beragama, para siswa saling mengunjungi. "Misalkan di saat natal. Siswa dan guru yang muslim berkunjung ke guru dan siswa yang beragama Kristen. Sebaliknya ketika lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Para siswa dan guru Kristen berkunjung ke siswa dan guru yang beragama Islam." Semua ini terjadi selama para siswa berada di sekolah. Dengan tujuan untuk membangun hubungan sesama manusia yang hidup di muka bumi.
Panjang lebar Kepsek SMA Siwalima menceritakan apa yang sudah dilewati baik oleh para guru maupun siswa. Dengan harapan dapat menjadi keterangan kepada para guru asal Amerika Serikat itu. Setelah itu, Director Asia Pasicificed Program East-West Center, Namji Steinemenn memperkenalkan satu-persatu dari empat belas guru yang datang ke Maluku bersamanya. 14 guru yang terdiri dari Gayitri Indar, Diane Martinson-Koyama, Jeannine Kuropatkin, Screnity The, Chi-An Lin, Charlene Tevis, Michelle Swanger Alexander, Nina Wohl, Sara House, Linda Robinson, Grace Chao, Steven Shimmon dan Alexander Schwarz berasal dari San Fransisco, New York, Texas, Honolulu (Hawai), North Carolina, Connecticut, Oklahoma dan Meza Arizona.
Mereka ini ada yang membawa mata pelajaran bahasa, pelajaran sejarah bangsa-bangsa, geografi, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni lukis maupun matematika. Sesaat memperkenal diri, baik kelima belas guru asal Amerika Serikat maupun para dewan guru dari SMA Siwalima, lalu berbegas dan menuju ke ruang kelas siswa. Saat berada di ruang kelas, para guru dari Amerika itu berdialog langsung dengan siswa-siswi SMA Siwalima. Suasana kelas tak ubahnya di kelas bahasa Inggris. Pasalnya seluruh siswa berbaur dan hanya berbicara dengan bahasa inggris. Maklum, kali ini bukan guru bahasa Indonesia atau matematika atau IPA yang keseharian bersama dengan mereka. Tapi mereka belajar dan bermain langsung dengan para guru asal Amerika Serikat yang hanya bisa berbicara dan memahami bahasa Inggris. Tiga kelas yang sesungguhnya masih dalam suasana orientasi siswa baru itu, langsung bisa mengekspresikan kemampuan berbahasa inggris mereka.
Jeda tiga puluh menit kemudian, para guru ini dijamu dengan makanan khas Maluku. Ada singkong, patatas, pisang rebus yang dipadukan dengan sayur acar rebung yang terbuat dari tunas bambu serta ikan tongkol bakar. Para guru asal negeri Paman Sam ini tampak menikmati sekali hidangan yang disajikan ala khas Maluku. Ternyata acara makan siang itu menjadi lebih nikmat setelah para siswa-siswi menyuguhkan empat buah lagu dengan lirik Ambon. Udara siang itu lebih memperkaya pengalaman para guru yang merasa kagum-kagum dengan keindahan alam negeri ini.
Bahkan mereka merasa negeri ini laksana surga. Apa yang diinginkan oleh masyarakat semuanya telah tersedia. Makanan, minuman maupun buah-buahan, imbuh Charlene Tevis dan Gayitri Indar.
Usai menunaikan hajat di SMA Siwalima, para guru ini kemudian bertolak ke Pantai Liang. Di Pantai Liang, mereka melakukan dialog dengan masyarakat dari Desa Waai dan Desa Liang. Hanya beralaskan terpal, diskusipun berlangsung kurang lebih dua jam. Diskusi panjang itu menambah pengetahuan bagi mereka tentang budaya di Maluku, termasuk ketidakmampuan eksekutif dan legislatif dalam melihat segudang persoalan yang dihadapi masyarakat di lapangan. Ketidakmampuan eksekutif dan legislatif ini diungkapkan langsung oleh masyarakat.
Salah satunya soal sumber daya alam yang sampai saat ini tidak mampu dikelola oleh pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat. Sumber daya alam yang begitu luas di Maluku, bahkan dibenarkan oleh Chi-An Lin. Guru yang kini tinggalnya di Honolulu (Hawaii) ini merasa aneh dengan Pemerintah Maluku. Pasal mana kondisi alam yang melimpah ruah tak mampu digali secara efisien.
Ia lalu mengusulkan agar pemerintah menerapkan sistem pendidikan yang mengarah kepada pemanpaatan sumber alam itu. Misalnya pendidikan berbasis kepulauan ataupun berbasis kelautan. Kalau ini sudah dijalankan secara profesional, maka dengan sendirinya masyarakat di Maluku akan sejahtera.
Untuk menutup agenda mereka di Maluku, para guru ini mengajak para siswa dari dua sekolah yang berbeda yakni MTs Pondok Pesantren Darul Quran Al-anwariyah Tulehu dan SMP Rehoboth di Pantai Latuhalat, Selasa, 27 Juli. Mereka mencairkan perbedaan yang selama ini menjadi alat penghambat kesamaan, tanpa memandang suku, ras, agama dan bangsa di Pantai Latuhalat. (***)
Minggu, 18 Juli 2010
8 versus 29
Menoreh Eksistensi Parpol Dalam Pilkada SBT
Dari angka, kita bisa membaca, kalau kemenangan hanya berpihak kepada calon incumbent, Abdullah Vanath-Siti Umuria Suruwaky. Alasannya cukup kuat. Jumlah parpol pendukung lebih banyak dibandingkan pasangan, Mukti-Jusuf, yang hanya mengantongi delapan parpol. Hanya saja, kita patut ingat, bahwa Pilkada demokrasi ditentukan oleh rakyat. Karena pilkada demokrasi, asalnya dari rakyat dan akan kembali ke rakyat.
Rakyatlah yang menentukan siapa pemimpin mereka. Rakyat yang memilih di saat berlangsungnya pemilihan. Sejarah bangsa mencatat, dalam catur perpolitikan, parpol tidak menjadi penentu kemenangan. Sebagai buktinya, bangsa Indonesia dipimpin oleh mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono. Yang sesungguhnya, dalam Pemilu sebelumnya dan pada pemilu 2009 lalu, SBY hanya mendapat dukungan dari Parpolnya. Parpol yang baru berusia umur jagung tersebut, mampu mengalahkan beberapa parpol koalisi, yang merupakan parpol penentu kemenangan selama kurun abad bangsa, dalam pencaturan dunia politik.
Itu artinya, pemilihan kepala daerah mutlak berasal dari rakyat dan akan kembali kepada rakyat. Parpol tidak selamanya menjadi tampu pemenang dalam suatu pemilihan kepala daerah. Kemenangan akan ditentukan oleh figur, siapa yang dicalonkan dan akan dipilih oleh rakyat.
Catatan kita untuk menengok Pilkada SBT, hanya berkaca kepada Parpol. Akibatnya, semua menoreh kemenangan kepada pasangan incumbent. Namun tidak kita sadari, kalau kuantitas parpol, tidak menjadi suara penentu.
Lalu! Kemana dan kepada siapa rakyat akan menaruh suaranya. Suara rakyat adalah suara alam. Suara alam yang menentukan maju mundurnya suatu daerah. Pilkada SBT jilid II ini, merupakan awal dari pra pembangunan di daerah hasil pemekaran Kabupaten Maluku Tengah tersebut. Yang akan menentukan daerah ini maju, adalah rakyat, bukan oknum yang mengaku pimpinan pasca Pilkada. Pilkada hanya alat, untuk menentukan eksistensi pemahaman masyarakat terhadap desain sistem politik bangsa, dalam mencapai negara demokrasi. Tanpa Pilkadapun, bangsa sudah mencatat dalam memory prakemerdekaan, bahwa negara ini menganut asas pancasila. Asas Pancasila yang mengandung nilai-nilai demokrasi.
Nilai demokrasi pancasila, hanya bisa diamanatkan kepada orang yang berasal dari rakyat. Orang yang dekat dan bekerja di atas terik matahari, makan dan bersilah dengan rakyat di atas bumi. Bukan seseorang atau kelompok yang berambisi untuk menjadi pemimpin. Karena, menjadi pemimpin bukanlah takhta untuk mengangkat derajat, harkat dan martabat seseorang. Tapi pemimpin, adalah amanat, yang kelak akan dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Hanya tinggal menghitung hari, warga SBT akan melihat nasib daerah mereka, untuk periode pembangunan lima tahun mendatang. Salah memilih calon pemimpin, maka akan salah selama lima tahun dalam pembangunan. Kesalahan dan kebenaran tidak bisa dipastikan oleh manusia. Tapi, naluri manusia ditakdirkan untuk bisa memfilter setiap keputusan yang hendak diambilnya. Memilih pemimpin yang baik, tidak ditentukan dengan nilai. Tapi memilih orang yang akan kita percayai sebagai pemimpin, dan siap membawa aspirasi masyarakat, akan ditentukan oleh nurani.
Memilih pemimpin tidak ditentukan dalam satu dua massa. Tapi satu menit berada di dalam kotak suara, adalah keputusan yang akan disesalkan selama 60 puluh minggu, 420 hari, 10,080 jam, bila pemimpin yang kita pilih meleset. Hari Senin 19 Juli ini, merupakan momentun sejarah rakyat SBT pasca pemilihan kepala daerah. Kemenangan sudah berpihak kepada siapa yang akan menjadi pemimpin. Perbedaan suara sungguh tidak jauh berbeda. Perbedaan ini jangan sampai menjadi silah kehidupan masyarakat SBT, yang dikenal dengan budayanya begitu kokoh. Bila menghendaki SBT dalam kemajuan, maka siapapun pemimpinnya yang sudah dipilih pada Pilkada kemarin, harus diterima secara demokrasi. Itu artinya, pembangunan lima tahun SBT pasca ditetapkan seorang Bupati Defenitif, mutlak ada di tangan rakyat. ****
ANGKA yang tidak sebanding. 8 versus 29. Ini merupakan jumlah parpol pendukung pasangan Calon Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) jilid dua, yang sudah berlangsung, 7 Juli lalu. Delapan parpol menyatakan dukungannya kepada pasangan, Abdul Mukti Keliobas - H Jusuf Rumatoras. 29 parpol menyatakan dukungannya kepada calon incumbent, Abdullah Vanath-Siti Umuria Suruwaky.
Dari angka, kita bisa membaca, kalau kemenangan hanya berpihak kepada calon incumbent, Abdullah Vanath-Siti Umuria Suruwaky. Alasannya cukup kuat. Jumlah parpol pendukung lebih banyak dibandingkan pasangan, Mukti-Jusuf, yang hanya mengantongi delapan parpol. Hanya saja, kita patut ingat, bahwa Pilkada demokrasi ditentukan oleh rakyat. Karena pilkada demokrasi, asalnya dari rakyat dan akan kembali ke rakyat.
Rakyatlah yang menentukan siapa pemimpin mereka. Rakyat yang memilih di saat berlangsungnya pemilihan. Sejarah bangsa mencatat, dalam catur perpolitikan, parpol tidak menjadi penentu kemenangan. Sebagai buktinya, bangsa Indonesia dipimpin oleh mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono. Yang sesungguhnya, dalam Pemilu sebelumnya dan pada pemilu 2009 lalu, SBY hanya mendapat dukungan dari Parpolnya. Parpol yang baru berusia umur jagung tersebut, mampu mengalahkan beberapa parpol koalisi, yang merupakan parpol penentu kemenangan selama kurun abad bangsa, dalam pencaturan dunia politik.
Itu artinya, pemilihan kepala daerah mutlak berasal dari rakyat dan akan kembali kepada rakyat. Parpol tidak selamanya menjadi tampu pemenang dalam suatu pemilihan kepala daerah. Kemenangan akan ditentukan oleh figur, siapa yang dicalonkan dan akan dipilih oleh rakyat.
Catatan kita untuk menengok Pilkada SBT, hanya berkaca kepada Parpol. Akibatnya, semua menoreh kemenangan kepada pasangan incumbent. Namun tidak kita sadari, kalau kuantitas parpol, tidak menjadi suara penentu.
Lalu! Kemana dan kepada siapa rakyat akan menaruh suaranya. Suara rakyat adalah suara alam. Suara alam yang menentukan maju mundurnya suatu daerah. Pilkada SBT jilid II ini, merupakan awal dari pra pembangunan di daerah hasil pemekaran Kabupaten Maluku Tengah tersebut. Yang akan menentukan daerah ini maju, adalah rakyat, bukan oknum yang mengaku pimpinan pasca Pilkada. Pilkada hanya alat, untuk menentukan eksistensi pemahaman masyarakat terhadap desain sistem politik bangsa, dalam mencapai negara demokrasi. Tanpa Pilkadapun, bangsa sudah mencatat dalam memory prakemerdekaan, bahwa negara ini menganut asas pancasila. Asas Pancasila yang mengandung nilai-nilai demokrasi.
Nilai demokrasi pancasila, hanya bisa diamanatkan kepada orang yang berasal dari rakyat. Orang yang dekat dan bekerja di atas terik matahari, makan dan bersilah dengan rakyat di atas bumi. Bukan seseorang atau kelompok yang berambisi untuk menjadi pemimpin. Karena, menjadi pemimpin bukanlah takhta untuk mengangkat derajat, harkat dan martabat seseorang. Tapi pemimpin, adalah amanat, yang kelak akan dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Hanya tinggal menghitung hari, warga SBT akan melihat nasib daerah mereka, untuk periode pembangunan lima tahun mendatang. Salah memilih calon pemimpin, maka akan salah selama lima tahun dalam pembangunan. Kesalahan dan kebenaran tidak bisa dipastikan oleh manusia. Tapi, naluri manusia ditakdirkan untuk bisa memfilter setiap keputusan yang hendak diambilnya. Memilih pemimpin yang baik, tidak ditentukan dengan nilai. Tapi memilih orang yang akan kita percayai sebagai pemimpin, dan siap membawa aspirasi masyarakat, akan ditentukan oleh nurani.
Memilih pemimpin tidak ditentukan dalam satu dua massa. Tapi satu menit berada di dalam kotak suara, adalah keputusan yang akan disesalkan selama 60 puluh minggu, 420 hari, 10,080 jam, bila pemimpin yang kita pilih meleset. Hari Senin 19 Juli ini, merupakan momentun sejarah rakyat SBT pasca pemilihan kepala daerah. Kemenangan sudah berpihak kepada siapa yang akan menjadi pemimpin. Perbedaan suara sungguh tidak jauh berbeda. Perbedaan ini jangan sampai menjadi silah kehidupan masyarakat SBT, yang dikenal dengan budayanya begitu kokoh. Bila menghendaki SBT dalam kemajuan, maka siapapun pemimpinnya yang sudah dipilih pada Pilkada kemarin, harus diterima secara demokrasi. Itu artinya, pembangunan lima tahun SBT pasca ditetapkan seorang Bupati Defenitif, mutlak ada di tangan rakyat. ****
Minggu, 18 April 2010
MALUKU, KIBLAT PERDAMAIAN DUNIA
"INDAHNYA DIAM BERSAMA RUKUN"
"Ya Allah, satukan hati dan fikiran kami untuk hidup dalam kebersamaan dan jauh dari konflik. Makmurkanlah daerah kami ini".
"Ya Allah, satukan hati dan fikiran kami untuk hidup dalam kebersamaan dan jauh dari konflik. Makmurkanlah daerah kami ini".
BEGITULAH penggalan kutipan do'a penutup acara pembukaan, Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Kerukunan Umat Beragama, yang mengusung tema, 'Peranan agama-agama dalam membangun kerukunan sejati di Maluku', yang berlangsung di Gedung Aula Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, hasil kerjasama IAIN Ambon, Pusat Studi Sejarah dan Budaya Maluku, dan Balitbang Departemen Agama RI.
Ruang Aula IAIN Ambon, Senin, 21 Desember, seakan disulap dalam sekejap mata. Lantai keramik putih itu, diletakkan 18 meja bundar, yang didesain dengan sarung kuning, plus kursi bersarung putih, dengan ditata rapih saling berhadapan. Di di depan fodiumnya, terdapat empat kursi dan meja persegi panjang yang dibalut dengan kain hijau, sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran.
"Tak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian antar agama, akan tetapi tidak akan ada perdamaian tanpa dialog antar agama", inilah ungkapan Hans Khung, yang dituangkan Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu, dalam sambutan tertulisnya, yang dibacakan Assisten I, Provinsi Maluku, Piet Norimarna, saat memberikan sambutan pada agenda pembukaan Semiloka Kerukunan Umat Beragama di IAIN Ambon kemarin.
Pelaksana kegiatan, Hasbullah Toisuta, dalam awal laporannya menyebutkan, kegiatan ini didorong dengan program kemasyarakatan, untuk menciptakan tatanan kehidupan yang beradab. "IAIN Ambon sebagai lambang pendidikan tinggi di Maluku, merasa terpanggil untuk adakan kegiatan ini", tukas Hasbullah.
Kegiatan yang berlangsung sampai Selasa, 22 Desember hari ini, menghadirkan tokoh agama, Prof DR H Dedi Djubaedi, M.Ag dan Pdt Jhon Ruhulessin, serta dua pakar budayawan termana di Maluku, yakni Drs Nur Tawainella, M.Si dan Prof DR Mus Huliselang.
Rektor IAIN Ambon, Prof H Dedi Djubaedi, M.Ag, dalam sambutannya menyatakan, semiloka ini sekaligus ajang dari silaturahim. Karena, lewat acara ini, masyarakat dari agama-agama di Maluku dapat berkumpul dan menyatukan pandangan mereka dalam pelbedaan.
Dedi lalu menyebutkan, Maluku harus menjadi kiblat bagi perdamaian umat di dunia, yang ini merupakan manifestasi dari pelaksanaan Gong Perdamaian di Kota Ambon beberapa waktu lalu. "Maluku harus menjadi kiblat umat pecinta perdamaian di dunia", ujar Dedi disambut tepuk tangan.
Kata dia, perdamaian tidak cukup hanya digaunkan, tapi yang pentingnya dimanifestasikan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara menjauhkan rasa curiga di dalam diri, pada setiap pergaulan atau pertemuan. "Sejatinya, Maluku berdamai."
Dekat dengan Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu, dalam sambutan tertulisnya menyatakan, ungkapan Hans Khung, soal perdamaian dan agama perlu mendapat renungan dari semua elemen masyarakat. Karena, secara sosiohistoris konflik atas nama agama, telah menoreh luka rohani dan stigma kolektif yang cukup mendalam dari tingkat lokal sampai sejarah Internasional.
Ia lalu menguraikan beberapa sejarah konflik antar agama di dunia, hingga tanah air. Seperti perang salib antar umat Islam dan Kristen, yang berlangsung sangat lama, konflik antara umat Khatolik dan Prostestan di Irlandia Utara, konflik antar umat Hindu dan Islam di India, hingga konflik antar umat Islam dan Umat Kristen di tanah air, seperti Posso, Sulawesi Tengah, dan Maluku, merupakan fakta historis bahwa, konflik antar agama memiliki sensitifitas yang sangat tinggi.
Sadar, walaupun faktor agama bukanlah satu-satunya akar masalah, akan tetapi ketika konflik itu diberi lebel dan dijustifikasi atas nama agama, maka hal tersebut dapat menimbulkan tingkat kesetiaan dan semangat berjuang yang sangat tinggi, walaupun harus mengorbankan jiwa raga, keluarga dan harta benda, urai Piet membacakan sambutan Gubernur Maluku. Padahal, semua nabi dan rasul dalam membawa agama ke muka bumi, tidak mengajarkan tentang konflik.
Untuk Maluku, Karel menyebutkan, ada banyak istilah yang sudah ditanamkan para leluhur kita. "Misal saja, ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging, atau sagu salempeng dibagi dua." Semua ini, adalah istilah orang Maluku, yang dapat merajut hubungan antar umat beragama di daerah ini.
Sementara itu Rektor IAIN Ambon, Prof Dedi dalam makalahnya 'membangun perdamaian sejati dalam masyarakat prulal', menyebutkan, peran agama sebagai perekat heterogenitas dan pereda konflik sudah lama dipertanyakan. Tak dapat difungkiri, manusia yang menghuni bumi ini, begitu heterogen terdiri dari berbagai suku, etnis, ras, penganut agama, kultur dan peradaban.
Prof Dedi dalam makalahnya menyebutkan, Samuel P Huntington, menyatakan, perbedaan tidak mesti konflik, dan konflik tidak mesti berarti kekerasan. Dalam dunia baru, konflik-konflik yang paling mudah menyebar dan sangat penting sekaligus berbahaya bukanlah konflik antar kelas sosial, antar golongan kaya dengan golongan miskin, atau antar kelompok-kelompok (kekuatan) ekonomi lainnya, tetapi konflik antara orang-orang yang memiliki entitas-entitas budaya yang berbeda-beda. Namun, selama berabad-abad, perbedaan entitas agama telah menimbulkan konflik yang paling keras dan paling lama, paling luas, dan paling banyak memakan korban.
Dalam citranya yang negatif, agama telah memberikan kontribusi terhadap terjadinya konflik, penindasan dan kekerasan. Agama telah menjadi tirani, dimana atas nama Tuhan, orang melakukan kekerasan, menindas, melakukan ketidakadilan dan pembunuhan.
Pada padanan paragraf lain, Dedi menyebutkan, menghadapi pelbagai ketimpangan sosial yang ada di Indonesia dewasa ini, seperti konflik, kekerasan, KKN, illegal loging, illegal fishing, bencana alam, dan lainnya, agama-agama bukannya memainkan peranan profertinya yang pro-kemanusiaan, justru lebih banyak bermain di domain sosio-politik. Dampaknya, agama-agama pun terjebak dalam ketegangan-ketegangan idiologis yang ingin saling menghigemoni dan mendominasi. Secara sosio-historis dalam kehidupan masyarakat plural, agama sebagai kekuatan sosial sering menjadi persoalan.
Pada kesimpulannya, Dedi menjelaskan, bahwa upaya-upaya membangun perdamaian sejati dalam konteks hubungan orang basudara di Maluku yang semakin plural, lembaga-lembaga agama di Maluku perlu membuka ruang dialog secara jujur, terbuka dan kritis antar iman, dengan semua komponen umat beragama di Maluku, secara kontinyu, seperti diskusi, seminar, studi agama-agama, dalam rangka membangun pemahaman perspektif orang Salam terhadap Sarane, atau sebaliknya, harus dibukan untuk dibicarakan.
Tampil sebagai pemateri pertama, Prof DR Ahmad Safi’i Mufid dari Balitbang Depag RI, menjelaskan, agama tidak pernah mengajarkan konflik. Yang konflik adalah doktrin agama dalam budaya sosial kehidupan. Kata dia, Lembaga adalah organisasi atau badan (institution) yang melaksanakan norma atau aturan mengenai suatu aktifitas masyarakat, dimana aturan dan norma yang dijadikan acuan dalam aktifitas masyarakat disebut pranata (institute).
Lembaga atau organisasi yang melaksanakan norma atau aturan berkenaan aktifitas keagamaan masyarakat disebut lembaga agama atau lembaga keagamaan, seperti pendidikan agama, ibadah, kerukunan adalah pranata, sedangkan IAIN, STAKN, Gereja Maluku, Masjid Al Fatah, FKUB dan adalah lembaga atau organisasi merupakan lembaga agama itu.
Lalu bagaimana peran lembaga keagamaan. Manusia yang melakukan tindakan interaksi biasanya menganggap dirinya berada dalam satu kedudukan sosial tertentu (status sosial). Tingkah laku individu yang melakukan tindakan tertentu berkaitan dengan status, disebut peranan atau peranan sosial (social role). Ini membutuhkan peran lembaga keagamaan, dalam tindakan yang dilakukan oleh lembaga atau organisasi keagamaan untuk interaksi sosial. Penamaan agama, agama bersumber dari “suara langit”, atau revelation yang diyakini mutlak benar dan suci. Agama adalah sakral, lainnya profan. Peran ganda agama sebagai identitas kelompok yang menyatukan komunitas homogen, di lain pihak agama sebagai identitas kelompok yang membedakan antara kelompok yang satu dengan kelompok lain. Hasilnya lembaga agama seringkali dianggap sakral, termasuk pemimpin dalam masyarakat beragama. "Peran pemimpin agama sangat dominan dalam kehidupan beragama", urai dia.
Dalam diskusi kemarin, ia banyak menjelaskan pengalamannya selama 30 tahun mendalami peran agama-agama untuk perdamaian. Agama berasal dari “langit” suara dari Tuhan. Ketika agama berkembang dengan menggunakan bahasa yang berbeda, agama dari Tuhan menjadi berbeda antara satu dengan yang lain. Ketika agama menjadi identitas kelompok suku (kabilah), ketika agama menjadi alat untuk memperoleh kekayaan (ghanimah) dan mengembangkan teologi seperti sebagai kebudayaan dominan, maka perang atas nama agama menjadi tragedi sepenjang sejarah. "Perang dengan dan atas nama agama menjadi nyata setelah muncul crusade atau shalabiyun dan perang sabil."
Ia juga menyebutkan, tradisi kecil (little tradition) diserap ke dalam agama dunia (Hindu, Budha, Islam dan Kristen). Hubungan ketidakseimbangan terjadi di antara keduanya dan tidak meninggalkan konflik. Hindu dan Budha saling menyerap, tetapi Wangsa Sanjaya (kerajaan Mataram) dan wangsa Sailendra ( Sriwijaya) mengalami ketegangan.
Islam dan Hindu-Budha, membangun toleransi. Tetapi bangsawan Majapahit bersitegang dengan penguasa Demak.
Islam dan Kristen bersitegang dari awal karena merupakan kelanjutan konflik di Barat yang dibawa ke wilayah negeri jajahan. Sejarah Maluku meninggalkan sejumlah catatan mengenai hubungan ini, kata Prof Ahmad.
Lebih jauh, dia menyebutkan, hidup dalam kebhinekaan (multikultural, isy al mustarak) sudah menjadi pandangan yang diterima oleh banyak pihak. Pada level international, di tahun 1962 Pope John XXII, meminta agar Gereja Katolik terlibat dalam dialog dengan gereja-gereja lain dan dengan tradisi serta ideologi di luar agama Kristen. Latar belakang pemikirannya antara lain migrasi penduduk dan tantangan yang dihadapi oleh misi Kristen.
Cardinal Montini ( Paul VI) kata dia, melanjutkan gagasan Pope sebelumnya dan melahirkan koleksi dokumen yang sangat bagus dalam kerukunan umat beragama; Lumen Gentium (Lights of the Nation), Nostra Aetate (in Our Times), Dei Verbum (On Devine Revelation), Gaudium et Spes (joy and Hope) dan Ad Gentes Divinitus ( the Universal of Salvation) and Dignitatis Humanea (dignity of the human person).
Cakarang, balabu, tomi-tomi. Inilah tiga nama meja dari 18 meja, yang dikeliling enam pasang kursi, untuk ditempati para tamu dan peserta dalam Semiloka Kerukunan Umat Beragama di Maluku. Pemberian nama dengan lebel nama-nama ikan maupun buah di Maluku ini, guna memudahkan para peserta untuk lebih dekat terhadap lokal wisdom di Maluku.
Pasalnya, perdamaian di dunia ini sangat mahal, termasuk di Maluku. Salah satu ciri perdamaian di Maluku, bagaimana mendekatkan sisi adat dan budaya, seperti maanu, pela dan gandong. Sejarah Maluku menukilkan konflik tahun 1999 silam, bisa reda karena adanya pendekatan keluarga, bukan campur tangan orang lain, kalaupun ada campur tangan orang lain, hanya dari sisi ekonomi. Bahkan mendiang mantan Presiden RI, Gusdur, sekembalinya dari Maluku saat konflik, menyerahkan sepenuhnya agar konflik di daerah ini, bisa diselesaikan oleh orang Maluku sendiri. Ungkapan Gusdur ini, membuktikan adanya kesatuan orang Maluku yang bisa berdamai dari konflik berdarah 9 tahun silam. Orang berhenti untuk bertikai, karena adanya hubungan yang sudah terbangun dari para leluhur di daerah ini.
Prof DR Ahmad Safi’i Mufid dari Balitbang Depag RI, yang menyuguhkan materi, peran lembaga agama dalam membangun perdamain sejati. Di dalam materinya, ia menyebutkan tentang mahalnya perdamaian di dunia. Kegiatan yang menghadirkan 100 orang peserta lebih dari berbagai komunitas agama ini, berlangsung dalam tajuk keterbukaan dan kebersamaan. Bahkan, ada peserta yang menyebutkan, harus adanya rukun di hati dan rukun di keluarga.
Menurut Prof Ahmad, the Anglican Communion pada tahun 1968 telah memasukkan diskusi tentang dialog antar agama pada Resolusi Konferensi Lambeth. Resolusi no 11 (Christianity and Other Faiths) dari konferensi Lambeth mendorong gereja-gereja Kristen untuk memelihara hubungan yang positif dengan berbagai umat beragama dalam bidang aksi ekonomi, sosial dan moral. Katanya Mu’tamar al 'alam al Islami (World Moslem Congress) pada tahun 1969 mengangkat isu dialog antaragama, khususnya dengan agama Kristen. Bahkan Rabitat al ‘Alam al-Islami (Moslem World Laegue) didirikan untuk tujuan menciptakan harmoni antarsesama manusia melalui prinsif keadilan, dan melalui aksi kebajikan.
Di akhir abad 20 dan awal abad 21, dialog Muslim-Kristen dan antaragama jauh berkembang dan mencakup banyak isue. Raja Abdullah, dari Arab Saudi berkunjung ke Vatikan pada bulan Nopember 2007. Sebelumnya Paus juga bertemu dengan para pemimpin Iran (Syi’ah). Presiden Khatami juga mengunjungi Vatikan dalam rangka yang sama, katanya.
Menariknya, sambutan Raja Abdullah bin Abdul Aziz pada Konferensi Dialog Antaragama di Madrid, Spanyol (16-18 Juli 2008) menuturkan, sahabat-sahabatku yang terhormat. "Saya datang kepada anda dari tempat yang dekat dengan hati semua muslim, tanah tempat dua Masjid Suci, membawa sebuah pesan dari dunia Islam, yang mewakili para sarjana dan pemikirnya yang belum lama ini bertemu dalam lingkup Baitullah." Pesan ini menyatakan bahwa Islam merupakan agama yang tidak berlebih-lebihan dan bertenggang rasa. Sebuah pesan yang menyerukan sebuah dialog konstruktif diantara umat beragama. Sebuah pesan yang berjanji membuka sebuah halaman baru bagi umat manusia. "Insya Allah, musyawarah akan menggantikan konflik,” tuturnya.
Ia lalu menanyakan, bagaimana peran lembaga-lembaga agama ini? Tahun 1969 lahir peraturan SKB Menag dan Mendagri No 1 tahun 1969. Peraturan ini lahir setelah perisitiwa Makassar. Dari perisitiwa ini disepakati untuk dialog antar umat beragama namun tidak berhasil. SKB pun lahir, namun belum juga menyeslaikan persoalan. Lahir juga LSM dan lembaga-lembaga masyarakat dengan tujuan memelihara perdamaian, seperti, dian Interfide, ICRP, Wahid Institut, STARA.
Pada era reformasi lahir peraturan bersama menteri agama dan menteri dalam negeri no 9 dan 8 tahun 2006 tentang pedoman pelaksanaan tugas kepala daerah/wakil kepala daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan FKUB dan pendirian rumah ibadah.
Belakangan lahir PBM antara Menag dan Mendagri tentang tugas kepala daerah dan wakil kepala daerah. Muncul juga lembaga baru yang difasilitasi pemerintah bernama FKUB. Bagaimana mewujudkan perdamaian? Kesemua lembaga ini berupaya membangun perdamaian sejati. Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah dan aparat, ketika peristiwa terjadi? LSM perdamaiankah atau FKUB?
Ketika eskalasi konflik mulai menurun, apa yang mesti dilakukan dan siapa yang melakukan. Bagaimana cara memelihara perdamaian, dan siapa yang mesti melakukan. Semua ini pertanyaan yang ada di dalam diri kita, untuk kita sendiri yang menjawabnya. Ataukah seperti yang dijawab Prof Ahmad, pengembangan multikultural.
Menurut Prof Ahmad, pengalaman kemanusiaan mutlak. Orang mempersepsikan Tuhan, apakah itu Tuhan, tapi Tuhan tak pernah meminta dipersepsikan. Kata dia, kebenaran dalam logika itu satu, tapi kebenaran dalam budaya dan sosial itu multi makanya muncul multikulturalisme.
Asia tampil. Dari Asia ini muncul yoga, muncul zikir, semadi, bebagai macam olahraga dan bisa diikuti semua pihak. "Ini semua agama bisa mengikuti. Asia memiliki kekayaan dan bisa menyatukan manusia di dunia. Soal yang dimunculkan para penanya soal sumberdaya. Pendidikan juga direduksi, formalisme agama dan kurang menekankan subtstansial agama", tukasnya.
Pasal mana, membuktikan kalau akar konflik di Ambon dan Posso, persoalan dominantnya kebudayaan. Kata Prof Ahmad, hindari anak mas. Karena, akan menyebabkan degradasi sosial, kalau tidak dihindari. Alkadri, sosiolog dari Tanjung Pura, juga menilai konflik juga persoalan migrasi, kalau tidak dikelolah dengan baik, maka akan menjadi lab konflik.
Dalam sesian lain, tokoh agama, Pdt Jhon Ruhulessin, yang tampil sebagai pemateri, 'peranan agama dalam membangun kerukunan sejati di Maluku', menuturkan keyakinan dasarnya, ketika kita berbicara tentang agama atau kerukunan. Masalahnya, bukan terfokus pada agama atau kerukunan, melainkan apa yang ingin dicapai. "Dan saya rasa yang ingin dicapai adalah kemaslahatan manusia dan kemanusiaan itu", tukas Pdt Jhon.
Jhon mengusulkan, dengan demikian, cara pandang tentang agama atau kerukunan seharusnyalah cara pandang terbuka. Dalam pandangan modern kata dia, menurut Erich Fromm, Karl Rahner dan kelompok yang sepadan, selalu menegaskan perlunya reformasi dalam memandang agama.
Menurut Jhon, dalam konsili Vatikan ke II, memandang agama bukan pertama-tama sebagai, 'organisasi kekuasaan', melainkan persekutuan beriman atau dalam pandangan Eka Darmaputera disebut, 'komunitas eksemplaris'; penekanan pada penguatan dan kematangan etika, moral, spritualitas dan komitmen, dan bukan pada struktur atau formalisme. Kesadaran untuk mencari dan menemukan 'dambaan dasar dari inti agama atau spritualitas' itu. Kata Jhon, pada dasarnya, agama-agama memiliki dambaan dasar yang sama, merindukan Tuhan Yang Esa, serta keadilan, kesejahteraan dan perdamaian bagi kemaslahatan manusia.
Pada akhir paragraf makalahnya, Ketua Sinode ini menjelaskan, dalam kitab Mazmur 133, tema'persaudaraan yang ruku', ayat 1, menjelaskan, "Sungguh alangkah baiknya dan indahnya apabila saudara-saudara diam bersama rukun." Kata ibraninya menurut Jhon, yakhad, yang berarti persatuan yang didasarkan pada kasih persaudaraan. Hidup seperti itu adalah hidup yang diberkati oleh Tuhan (ayat.3b). Dengan kata lain, jelas dia, hidup yang tidak diberkati oleh Tuhan. Dengan demikian, maka kerukunan secara iman Kristen mengandung makna hidup dalam persaudaraan sejati dengan damai, penuh pengertian, menghargai dan menghormati, dialogis, kerjasama yang setara, demi kebaikan bersama dan kemaslahatan bersama seluruh umat manusia. Olehnya itu, Pendeta Jhon menuturkan, perspektif keagamaan yang menopang dan memungkinkan terbangunnya kerukunan semacam itu, adalah perspektif keagamaan yang fungsional, terbuka, emansipasif dan transformatif. Dengan demikian, kakta dia, agama dan kesalehan keagamaan dalam perspektif kerukunan harus memiliki imflikasi praksis kemanusiaan. "Agama tidak akan terlepas dari dimensi-dimensi dialogis dengan disiplin ilmu yang lain, untuk memperkaya kebersamaan dan persaudaraan kita membangun Maluku yang lebih bersaudara, setara, berkedamaian, berkeadilan dan berkesejahteraan serta yang memiliki religiusitas," ungkap Pendeta Jhon.
Pendeta Jhon menuturkan, hubungan manusia di Maluku harus dibangun perbedaan yang kualitatif, bukan kehidupan beragama saja, tapi yang pentingnya kehidupan dan kemaslahatan manusia. Kalau agama tidak bisa bangun humanisme, maka agama dianggap gagal, tukas Pendeta Jhon.
Kata dia, kehidupan beragama, selalu timbul kontroversi. Di sisi lain, kontroversi penting untuk menyatukan perbedaan. Kalau agama dipandang dari sisi ruh. Di sisi ini, etika dan moral memiliki peran penting sebagai domain perdamaian. Konflik menjadi tidak ada, karena agama yang diyakini dari sisi praktek rutual. Agama merindukan keadilan dan kedamaian, di sisi lain, orang beragama terus konflik karena mengabaikan adab.
Pada sisi budaya, hadir Drs M Noer Tawainella, M.Si, yang mempresentasikan, 'Ekspolarasi nilai-nilai budaya dalam membangun kerukunan sejati di Maluku.
Kata dia, ketika hati nurani bicara, konflik tak ada. Yang ada hanya penyesalan dari kesudahan adanya konflik. Kata dia, manusia ditransformasikan ke dalam budaya, karena agama itu abstrak. Berada pada wilayah yang tidak kita tahu. Bagaimana tahu, lewat kendaraan yang disebut budaya. Kata dia, orang berbudaya akan menghargai usulnya, yang dapat melahirkan bibir pertemuan makro dan mikronesia. Budaya orang Maluku, terbentuk dari sejarah orang yang tinggal di pesisir pantai, karena orang mengetahui agama, lewat pintu budaya. Merilik Maluku, orang Maluku, adalah manusia yang tinggi budayanya, tinggi budinya.
Di sisi lain kata dia, orang Maluku adalah orang yang cepat marah, tapi cepat habis. Istilah tuang hati jantong, gunung tanah, gandong-pela, maanu, semuanya merupakan gambaran refleksi, terhadap bumi kelahiran Maluku. Bumi yang dibentuk oleh para leluhur, berdasarkan etika dan budi pekertinya, untuk saling menghargai sesama.
Lalu, bagaimana dengan Prof DR Mus Huliselang. Dalam makalahnya, 'peranan nilai-nilai budaya dalam membangun kerukunan sejati di Maluku', menjelaskan, konstalasi kebudayaan di Maluku, untuk bagaimana memahami keberadaan orang Maluku saat ini. Masyarakat Maluku, pada awalnya kelompok besar, kata dia. Ia juga menuturkan, alune, wamale, uru siwa, uru lima, pata siwa, pata rima, semua ini merupakan simbol mendamaikan konflik. Dijelaskan, para leluhur di Maluku yang telah membumikan budaya di daerah ini, teraflikasi dalam hidup mereka setiap saat. Itu sebabnya, hal yang bukan menjadi milik mereka, tidak bisa diambil tampa ijin. Berbeda dengan kondisi saat ini, yang diserang dengan budaya luar setiap saat, yang menggorogoti tindakan dan gerakan anak muda di Maluku, hingga gampang larut dalam konflik. Saat ini kata dia, orang Maluku sudah saling monopoli, dan itu lahir sejak tahun 1532-1565.
Kata dia, sejarah menukilkan, masuknya penjajah Belanda, membuat nilai-nilai pata siwa dan pata lima di daerah ini menjadi buram dan saling menyerang. Di sini terjadi perang pemaksaan agama, yang dimulai dari Ternate, kerajaan Tidore. Terjadi pemaksaan beragama, yang menimbulkan konflik berpanjangan, dan bukan hanya perebutan kekuasaan wilayah saja. Gesekan di Seram, dan Lease, sangat besar dibandingkan dengan Kei, Tenggara dan Aru, jabar Prof Mus. Baru pada 300 tahun silam, pranata pela muncul untuk melawan kekerasan dan penjajahan di daerah ini. Pencetusan pela, didasarkan kepada penghargaan ritual beragama, sehingga kekuatan itu timbul dan bisa menumpaskan para kolonialisme Belanda dan Spanyol. Untuk itu, dibutuhkan pengayaan agar persoalan konflik di daerah ini dapat berakhir dan tidak menumpahkan darah lagi.
Dalam akhir kegiatan, Benhur G Watubun, peserta, dalam pesannya, memberikan penghargaan yang setingginya atas semiloka ini. IAIN Ambon bisa memberi warna kerukunan umat di Maluku. "Sebutir pasirpun dapat menunjang sebuah bangunan, lewat butir-butir pemikiran inilah, kita dapat membangun Maluku dalam kerukunan yang damai. Bukan permulaan, tapi implementasi hasil akhir untuk kedamaian umat di dunia dan ini menjadi refleksi untuk hidup di masa datang." Akhirnya, kegiatan ditutup dengan puisi yang dengan judul,'Ibu', yang disampaikan oleh Rudi Fofit, yang juga hadir sebagai salah satu peserta dalam semiloka ini. ****
Langganan:
Postingan (Atom)